Tampilkan postingan dengan label Desa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Desa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Januari 2022

Mahasiswa KKN Tematik Unram Adakan Sosialisasi Pengembangan Usaha Tenun Pringgasela


Lombok Timur - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik UNRAM melaksanakan Sosialisasi terkait pengembangan usaha tenun dan implementasi media sosial sebagai aksesbilitas marketing di Desa Pringgasela, Kecamatan Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur, Rabu (26/01/2022) 


Sehubungan dengan kondisi pandemi covid-19 belum berakhir, menyebabkan hampir seluruh daerah merasakan dampak perubahan ekonomi yang cukup signifikan, salah satunya pada sektor rumah tangga. Oleh karena itu, Mahasiswa Tematik Unram yang melaksanakan kegiatan KKN di Desa Pringgasela, Kecamatan Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur mengadakan kegiatan sosialisasi terkait pengembangan kewirausahaan pada tenun yang merupakan potensi di Desa Pringgasela guna memperbaiki perekonomian masyarakat Desa Pringgasela serta menambah jiwa kewirausahaan.

Sosialisasi yang diadakan oleh mahasiswa KKN Tematik UNRAM ini lebih fokus membahas terkait pemasaran melalui sosial media. Sosial media merupakan salah satu media pemasaran yang cukup efisien dan efektif dalam kegiatan promosi serta cakupan konsumen yang sangat luas. Oleh karena itu, sosial media menjadi salah satu kebutuhan yang paling banyak digunakan pengusaha kecil maupun pengusaha besar dalam mempromosikan berbagai macam produk. Adapun sosial media yang digunakan pada sosialisasi ini adalah Instagram, facebook, serta platform lainnya seperti website.


Kegiatan sosialisasi ini diadakan di Galeri Tenun Pringgasela dan dihadiri oleh Sekretaris Desa, kelompok tenun Pringgasela dan masyarakat lainnya serta beberapa tokoh masyarakat juga ikut berpartisipasi dalam kegiatan sosialisasi ini. Muhammad Rezi Zulyan Wahyudi selaku Marketing Manager Of Youth Brandstorming Program dari organisasi pembinaan UMKM ditunjuk sebagai pemateri yang akan menjelaskan terkait dengan pentingnya media sosial sebagai aksesbilitas marketing.


“Terima kasih saya ucapkan kepada teman-teman KKN atas gerakannya, inspirasinya, ataupun bimbingannya kepada kami atau kelompok kami khususnya yang ada di Desa Pringgasela ini untuk membantu kami baik di dalam bidang pemasaran ataupun jenis lainnya”. Ucap pak maliki dalam sambutannya selaku pendiri Galeri Tenun Desa Pringgasela.


“Kemudian terkait dengan produk yang dihasilkan merupakan salah satu produk yang memang sangat bernilai tinggi sebenarnya, cuma memang yang menjadi permasalahan disini dari desa belum ada regulasi khususnya terkait dengan sistem penjualan dan pemasaran”. Ucap pak Imam Sanjaya dalam sambutan selaku sekretaris desa Pringgasela. 


Selain pemberian sosialisasi dan edukasi, kegiatan dilanjutkan dengan dibukanya sesi tanya jawab pada pertengahan acara, dengan adanya sesi tanya jawab ini peserta sosialisasi diharapkan dapat memberikan suasana yang interaktif antara pemateri dan peserta sosialisasi serta menjawab pertanyaan dari seluruh peserta atau audience.


Dengan adanya sosialisasi ini masyarakat diharapkan mampu mengembangkan usaha tenun terutama di bidang marketing atau pemasaran sehingga dapat meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat di Desa Pringgasela.


Senin, 01 Mei 2017

Desa Obel obel punya syurga tersembunyi

Obel obel lombok timur
Desa Obel obel
LOTIM, lGeoNews. Tempat tersembunyi, syurga tersembunyi, di desa obel obel kecamatan sambelia kabupaten lombok timur. Sebuah sumber air yang memiliki potensi wisata yang belum mampu di maksimalkan oleh warga sekitar. Bendungan kecil yang dinamakan gumbang oleh warga sekitar.

Berlokasi strategis dikelilingi oleh bukit bukit menjadi sumber air yang begitu jernih, terlihat dari gambar foto yang mampu memantulkan kondisi alam yang masih alami karena air yang juga begitu jernih dan juga begitu segar saat kita rendamkan kaki.

Salah satu warga, Erma Rohidayani (21) mengakui potensi desa yang ia tempati “ sejak tahun 2015, usai menyelesaikan pendidikan di kota mataram, awlanya tidak sengaja ingin mencari tempat segar untuk berteduh, muncullah pemikiran saya bahwa disini sangat bagus jika menjadi destinasi wisata ” ungkapnya (16/4).

Wanita yang kerap di panggil Rani ini juga mengungkapkan, ia pernah diskusi dengan teman sebayanya dan tokoh desa setempat yang juga belum mendapatkan respons baik, “sudah saya ngobrol dengan teman teman saya di sini dan salah satu tokoh masyarakat disini tapi belum ada tanggapannya terkait potensi ini ”.

Saat tim dari Lombokgeographic berkunjung  ke tempat ini juga masih terlihat warga sekitar memanfaatkan sumber air ini sebagai tempat mandi sehari hari, mencuci pakaian dan kebutuhan lainnya. Di atas gumbang ini juga terdapat gumbang satu lagi di atasnya sebagai penampungan air bersih yang gunakan sebagai air minum sehari hari warga sekitar, dari zaman dulu sampai sekarang pun masih ada beberapa warga yang menggunakan air dari sumber ini sebagai air minumnya.


Rani juga menambahkan, sering kali juga didatengin orang luar dari kerabat kerabat warga sekitar yang mencari tempat sejuk seperti ini, apa lagi keluarga dari saya sangat tergirang saat mereka berkunjung ke tempat syurga ini, ungkapnya di lokasi. (ar)

Selasa, 07 Februari 2017

Desa Kuripan


Mataram,lGeoNews. Desa Kuripan tempo dulu adalah satu wilayah kesatuan masyarakat yang dimulai dengan nama Pamusungan  yang dipimpin oleh seorang Pamusung. Nama Desa “Kuripan” diambil dari nama sebuah Kerajaan yang ada di Pulau Lombok, yaitu Kerajaan Kahuripan.Kerajaan Kahuripan terpusat di Desa Kuripan. 

Hal ini terbukti dari adanya situs-situs sejarah yang masih ada sampai sekarang yaitu antara lain; Situs Makam Raja Kahuripan di Karang Makam, Situs Makam Patih Seketeng di Tongkek, Situs Makam Patih Nuraksi dan Nurakse di Makam Indergecek Pelabu, dan Makam Pangeran Kelungkung yang masuk Islam di Pedewa’ Pelabu. 

Desa Kuripan termasuk Desa tua yang berada diwilayah selatan bagian timur Kabupaten Lombok Barat. Sebelum tahun 1959 wilayah Desa Kuripan sangatlah luas yaitu mencakup; sebagian wilayah Kecamatan Gerung Yaitu Desa Dasan Geres disebelah Barat, Desa Tempos dan Desa Banyu Urip dibagian Selatan. Sedangkan ke Timur sampai Wilayah Lombok Tengah yaitu Desa Labulia dan disebelah Utara Desa Kuripan utara dan Desa Jagaraga Indah.

Desa Kuripan berdiri dengan nama Pamusungan sekitar Tahun 1904 yang dipimpin oleh seorang Pemusung bernama Mamiq Muliasih. Tahun 1997 Desa Kuripan dimekarkan menjadi 3 (tiga) Desa yaitu : Desa Kuripan, Desa Kuripan Utara, Dan Desa Kuripan Selatan. Tahun 2000 wilayah Desa Kuripan yang dulu berubah menjadi satu wilayah Kecamatan yang disebut sebagai Kecamatan Kuripan yang pusat kotanya berada di Desa Kuripan. 

Saai ini Desa Kuripan adalah Desa yang terletak di daerah perbatasan antara Kabupaten Lombok Barat dengan Kabupaten Lombok Tengah, sehingga sehingga memiliki arti yang sangat strategis sebagai wajah Kabupaten Lombok Barat. Jika masyarakat Kabupaten Lombok Tengah ingin ke Kota Provinsi. Maka haruslah melewati Desa Kuripan.

Sebagian besar tata pemukiman Desa Kuripan merupakan peninggalan masa lampau yaitu Kerajaan Kahuripan, dimana dari empat penjuru Desa Kuripan diapit oleh tempat pekuburan. Selain situs-situs sejarah terdapat pula situs-situs budaya yang masih dihormati dan dipelihara masyarakat.  

Kamis, 22 September 2016

Desa Tenun Sukarare


Indonesiananelok.com. Di kabupaten Lombok tengah, provinsi Nusa Tenggara Barat, terdapat desa unik bernama Sukerare. Selain menyuguhkan pemandangan alam khas pulau Lombok, desa ini juga memiliki tradisi menenun yang masih dipertahankan masyarakatnya secara turun temurun hingga saat ini.

Kain tenun memang menjadi daya tarik utama dari desa wisata ini. Kain tenun yang dihasilkan oleh para penenun setempat bukan sekedar keterampilan turun temurun saja, keterampilan ini juga berfungsi sebagai falsafah hidup dan bagian adat istiadat warga desa.

Sebagai contoh, setiap gadis Sukerare harus bisa menenun, jika tidak mereka tidak boleh menikah. Jika ada yang melanggar hal tersebut, maka keluarga dan mempelai yang bersangkutan harus menerima sanksi adat yakni membayar denda kepada seluruh penduduk desa. Sanksi tersebut berupa denda satu kilogram beras.

Sekilas, denda tersebut memang terdengar sepele, namun satu kilogram beras tersebut harus dibagikan kepada setiap kepala keluarga yang tinggal di desa itu. Karena mata pencaharian utama warga desa adalah bertani, dan kehidupan mereka cukup pas-pasan, maka hal tersebut dipandang memberatkan sehingga banyak keluarga yang memilih menghindari sanksi tersebut dengan cara mengajarkan kebiasaan menenun kepada anak gadis mereka sejak dini.

Tetebatu Lombok Timur

 
Jajarkarang.com. Udara bersih, kesegaran air, sawah hijau dengan latar Gunung Rinjani, keramahan warga membuat siapapun yang pernah ke Tetebatu ingin kembali lagi. Mereka serasa pulang kampung.
Sebuah pesan singkat masuk di HP butut Salman Hafiz, 30 tahun. Salah seorang kerabatnya meminta dia untuk menemani salah seorang tamu, perempuan muda dari Swiss. Perempuan itu ingin belajar kerajinan perak. Kerabatnya itu tidak lancar berbahasa Inggris. Salman yang pernah kuliah di jurusan Bahasa Inggris – namun tak selesai – pasti bisa menemani. 

Salman langsung kontak dengan perempuan itu, Fabienne Goldner. Seorang mahasiswi yang sedang liburan ke Indonesia. Dia memilih Lombok. Ketika browsing tentang Lombok, dia melihat tentang kerajinan perak. Dia tertarik untuk belajar. Sambil mengisi liburan panjangnya, rasanya tidak cukup sekadar berkunjung dari satu tempat wisata ke tempat wisata lainnya. Fabienne beruntung berkenalan dengan Salman. Salman tahu tempat perajin perak, dan Salman tidak asing dengan kerajinan itu. Sambil melihat cara pembuatan aneka kerajinan, seperti cincin, gelang, mata kalung, Salman menjadi penerjemah. 
Sebenarnya banyak tempat melihat kerajinan perak. Tapi Salman meminta tamunya itu belajar di Desa Lendang Nangka, Kecamatan Masbagik. Hanya 2 kilometer (km) dari Tetebatu. Pertimbangannya sederhana, Salman kenal dengan perajin itu, dan ini kesempatan baginya mempromosikan Tetebatu. Fabienne setuju. Sambil belajar kerajinan perak, setiap hari dia menikmati berbagai spot menarik di Tetebatu.

Namanya singkat, Bas. Dia mahasiswa pascasarjana antropologi di negaranya, Belanda. Dia mendapat izin penelitian di Indonesia. Melalui supervisor di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, dia memilih Lombok. Hasil browsing di internet, pria 29 tahun itu memilih Tetebatu sebagai tempatnya tinggal selama penelitian di Lombok. Padahal lokasi penelitiannya tersebar dari Kuta Lombok Tengah, Senggigi Lombok Barat, dan Gili Trawangan. Penelitiannya ada kaitan tentang pariwisata. 
Bas tidak keliru memilih Tetebatu sebagai tempat bermukim sementara penelitian. Walaupun bolak balik ke Lombok Tengah, bahkan sampai Lombok Barat, dia menyempatkan pulang ke Tetebatu. Selama di Tetebatu dia menginap di salah satu penginapan sederhana milik warga di Orong Gerisak.  Bas selalu rindu kembali ke rumah itu.

“Orang-orang Tetebatu menyenangkan,’’ kata pria murah senyum itu ketika saya temui di Tetebatu.

Bagi Fabienne dan Bas, tinggal di Tetebatu ibarat pulang ke rumah sendiri. Mereka tak berjarak dengan warga setempat. Walaupun mereka wisatawan, warga menganggap mereka bagian dari keluarga. Bas sering diajak menginap ke rumah warga. Begitu juga ketika ada pesta, Bas selalu diundang. Dari sana dia belajar cara hidup orang Lombok. Memakai sarung dan bersila, posisi duduk yang selalu menyiksanya. Tapi keramahan warga itulah yang membuat Bas senang diundang.

Fabienne pulang ke Swiss dengan oleh-oleh cincin perak. Cincin sederhana itu begitu berkesan. Dia sendiri yang membuatnya. Walaupun tidak sehalus cincin buatan perajin, baginya itu sangat memuaskan. Dan itu berkesan sekali baginya. Empat bulan kemudian, Fabienne kembali ke Indonesia. Dia langsung memilih Tetebatu. Kali ini dia membawa ibunya. Udara sejuk Tetebatu cocok bagi ibunya yang sudah tidak muda lagi. Fabienne serasa pulang kampung.

INILAH konsep wisata yang mulai digalakkan para pegiat wisata di Tetebatu dan Kembang Kuning. Wisatawan berinteraksi dengan warga sekitar. Wisatawan menyelami aktivitas warga. Dalam aktivitas tersebut, wisatawan memang tidak merogoh kocek. Tapi mereka betah tinggal di Tetebatu. Itu artinya makin banyak pemasukan bagi penginapan dan warung-warung makan yang mereka singgahi.
Saban hari, Musanif, Ketua Pokdarwis Kembang Kuning mengajak tamunya menyaksikan dari dekat proses pembuatan kopi. Bukan di cafe atau tempat khusus, tapi di halaman rumah warga. Agar rasa kampungnya terasa, dia meminta tamu itu memakai sarung. Tamu perempuan diminta memakai pakaian khas Sasak. Mereka layaknya pengantin. 

Di halaman yang tak terlalu luas, tanpa ada paving itulah para bule itu melihat langsung proses pembutan kopi yang mereka nikmati setiap pagi. Ketika mereka diajak untuk mencoba langsung menggoreng, menumbuk, dan menghaluskan, mereka dengan senang hati mencoba. Saking semangatnya, mereka mencoba semua. Plus langsung memasak air dan menyeduh kopi buatan mereka sendiri. Tawa tak henti-hentinya ketika mereka bercerita tentang pengalaman kepanasan saat menggoreng, tangan yang pegal ketika menumbuk.
“Kita buat mereka nyaman tinggal di Tetebatu,’’ kata Musanif yang sekaligus Manajer Pondok Bulan, sebuah penginapan gaya cottages di Tetebatu.

Fadli, pegiat wisata lainnya juga tidak ragu membawa tamunya masuk sawah. Bahkan para tamu yang diajak itu diminta membuka sepatu. Tidak ada sepatu boot disiapkan. Mereka “dipaksa” untuk nyeker dan masuk ke kubangan lumpur. Mencoba mencabut bibit padi, dan ikut menanam di sawah yang sudah disiapkan.
Kaki yang geli karena kali pertama menginjak lumpur, tangan dan punggung yang pegal lantaran tak terbiasa membungkuk menjadi cerita para bule itu setelah kembali ke penginapan. Tentu saja mereka tak ikut menanam padi hingga tuntas. Sekadar beberapa menit, ada puluhan foto yang tersimpan di dalam memori kamera mereka. Fadli yakin, para tamunya itu akan membagikan foto “unik” itu ke media sosial.
“Cerita dari wisatawan langsung ke temannya cukup efektif untuk promosi,’’ katanya.
Sejalan dengan wisata yang mau hidup, Pokdarwis Tetebatu dan Kembang Kuning membenahi beberapa objek wisata. Sebenarnya objek wisata di Tetebatu tidak menjadi favorit. Ada air terjun, tapi air terjun itu kalah tenar dan kalah indah dibandingkan air terjun lainnya, seperti Benang Stokel, Benang Kelambu, Sendang Gile, dll. Air terjun di Tetebatu paling tinggi hanya 6 meter. 

Air terjun kecil itu memang bukan tempat berlama-lama. Wisatawan hanya sekadar membasahi badan, atau mengikuti jalur hyking. Andalan Tetebatu dari sisi alam adalah hyking keliling desa. 
Sawah yang masih hijau dan luas menjadi daya tarik wisatawan untuk menjelajahinya. Saat perjalanan itulah tamu dibawa ke air terjun. Beberapa air terjun kecil yang ada di Tetebatu adalah Tibu Purit, Tibu Topat, Tetebatu Waterfall. Perjalanan menembus air terjun mini itulah sensasi wisatanya. Melewati pematang sawah dan harus berendam di sungai. Layaknya pecinta alam.

Air terjun dari sungai yang masih alami membuat wisatawan betah berendam. Airnya masih jernih. Tidak ada sampah dan kotoran. Selain itu, suasana sekitar air terjun itu begitu sunyi. 
Karena mulai ramai, jalur menuju air terjun itu diperbaiki. Tapi tetap mempertahankan keasliannya, jalan tanah. Ketika hujan jalan menjadi licin. Tapi tetap saja itu menjadi jualan berkunjung ke air terjun.
Selain air terjun kecil itu, di Desa Jeruk Manis (pemekaran Desa Kembang Kuning) air terjun Jeruk Manis menjadi daya tarik. Berada di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), pengunjung jalan kaki sekitar 30 menit. Treknya cukup datar. Dinaungi pepohonan, perjalanan dari pintu gerbang menuju air terjung terasa sejuk. 

Belakangan ini ketika pendakian booming, jalur lama menuju Rinjani dari Tetebatu kembali “dihidupkan”. Di era boomingnya pariwisata, banyak wisatawan yang ingin melihat keindahan Danau Segara Anak mengambil jalan pintas dari Tetebatu. Rutenya dari Tetebatu menuju Timbanuh melewati persawahan. Lalu setengah hari perjalanan dari Timbanuh bisa sampai ke titik Pelawangan Timbanuh. Dari atas itulah bisa menikmati keindahan Gunung Baru Jari dan Segara Anak. 
“Tidak direkomendasikan untuk turun ke Segara Anak, terlalu berbahaya,’’ kata Hayyi yang beberapa kali membawa tamu melewati rute Tetebatu – Timbanuh – Pelawangan Timbanuh.
Trek yang dilewati relatif beragam. Dari Tetebatu melewati persawahan. Lalu dari Timbanuh menuju Pelawangan Timbanuh melewati padang ilalang dan hutan yang tak terlalu lebat. Jika dibandingkan rute Sembalun, rute Timbanuh lebih pendek dan lebih landai. 
“Banyak tamu yang hanya sekadar ingin melihat Danau Segara Anak. Pilihannya jalur Tetebatu – Timbanuh,’’ katanya.

Di penginapan-penginapan yang ada di Tetebatu juga memberikan pelayanan ekstra bagi tamunya. Di Pondok Bulan misalnya. Malam hari, para tamu berbaur dengan staf di penginapan tersebut. Mereka membuat api unggun, main gitar dan nyanyi bersama. Bagi pemilik penginapan, tamu yang menginap adalah bagian anggota keluarga. Jika mereka senang, waktu tinggal bisa lebih lama. Boleh saja mereka liburan ke pantai, tapi tetap malam hari akan kembali ke Tetebatu. Mereka pulang kampung.
Bangkitnya Pariwisata Tetebatu
Geliat pariwisata di Tetebatu dan Kembang Kuning mulai bangkit. Digerakkan oleh para pemuda yang tergabung dalam Kelompok Sadar Pariwisata (Pokdarwis) Tetebatu dan Pokdarwis Kembang Kuning, mereka aktif berpromosi melalui media sosial dan menjalin kerja sama dengan pihak travel. Selain itu, mereka juga aktif menggelar berbagai event, mulai dari pentas seni, peresean, pendakian bersama, dan mengajak langsung wisatawan terlibat dalam berbagai kegiatan masyarakat desa.
“Wisatawan senang dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan di kampung,’’ kata pegiat wisata Tetebatu, Fadli.
“Sekadar menggoreng kopi saja, wisatawan asing senang dilibatkan,’’ sambung Ketua Pokdarwis Kembang Kuning, Musanif.
Sempat “tertidur” cukup panjang, kini pariwisata di Tetebatu dan Kembang Kuning boleh dikatakan bangkit kembali. Ini bisa dilihat dari kembali dibukanya beberapa penginapan. Dan yang membuat Fadli dan Musanif senang, wisatawan asing mulai kembali ke Tetebatu dan Kembang Kuning. Kehadiran mereka menjadi sinyal kuat jika pariwisata kembali ke dua desa di kaki Gunung Rinjani ini.
Di era 1990-an, Tetebatu kesohor hingga mancanegara. Wisma Soedjono, salah satu penginapan paling tua, seakan menjadi ikon Tetebatu. Namanya tercatat di dalam buku-buku pegangan pejalan. Ketika booming pariwisata, banyak bermunculan penginapan. Rumah-rumah penduduk disulap menjadi penginapan. Tak melulu penginapan mewah dengan beragam fasilitas, penginapan dari rumah bedek pun diburu. Wisatawan mencari sensasi tinggal di pedesaan. 

Tiap pekan ratusan wisatawan asing mampir ke Tetebatu dan Kembang Kuning. Sekadar melepas penat, dan sebagian menginap. Mereka biasanya meneruskan kunjungan ke sentra kerajinan  Loyok (bambu), Rungkang (gerabah), Pringgasela (tenun), Penakak Masbagik (gerabah). Di Tetebatu dan Kembang Kuning mereka menikmati keindahan alam. Gunung Rinjani terlihat kokoh dari dua desa ini. 
Bahasa Inggris seakan menjadi bahasa kedua di Tetebatu, setelah bahasa Sasak. Itu lantaran banyaknya wisatawan asing yang menginap dan berinteraksi dengan mereka. Tak sedikit juga orang asing yang tinggal cukup lama dan beberapa kembali lagi ke Tetebatu. Mereka betah dengan suasana pedesaan dan keramahan orang Tetebatu.

“Saya sampai diajak keliling Eropa sampai berbulan-bulan,’’ kenang Kusuma Adnan.
Kusuma dulunya guide dan pemilik Bale-Bale Cafe. Jangan tertipu dengan sebutan “cafe”. Pada dasarnya cafe itu adalah halaman rumahnya. Sangat sederhana. Di cafe sederhana itu, Kusuma menyediakan menu lokal, seperti pelecing, ayam bakar, tempe dan tahu goreng. Menariknya, wisatawan bisa langsung melihat dan mencoba memasak. 
“Krisis ekonomi yang pertama kali menghajar pariwisata,’’ kata pria yang kini mejadi guide di Gili Trawangan ini.
Tahun 1997 wisatawan yang berkunjung ke Tetebatu mulai berkurang. Tahun 1998, ketika reformasi bergulir, pariwisata seakan runtuh. Wisatawan yang berkunjung, khususnya wisatawan asing, turun drastis. Kadang dalam beberapa hari tidak ada sama sekali wisatawan. Keamanan menjadi alasan mereka takut ke Indonesia.

Peristiwa bom Bali I dan boma Bali II kembali memukul pariwisata. Dilanjutkan dengan peristiwa 171 di Mataram, membuat rontok pariwisata. Padahal di Tetebatu kondisi aman-aman saja.
“Tapi citra di luar secara keseluruhan Indonesia tidak aman,’’ katanya.
Rontoknya pariwisata itu bisa dilihat dari keberadaan art shop di Desa Loyok. Ketika pariwisata berjaya, sepanjang jalan utama di Desa Loyok, art shop yang menjajajak kerajinan tangan dari bambu berderetan. Tapi begitu pariwisata lesu, art shop itu banyak yang tutup. Begitu juga di Rungkang, perajin gerabah gulung tikar lantaran sepinya orderan.
Di Tetebatu juga kena imbasnya. Banyak penginapan yang dulunya berjaya, hidup kembang kempis. Rumah makan tutup. Penginapan-penginapan terpaksa merumahkan karyawan mereka lantaran sepinya tamu. Banyak pemuda yang akhirnya memilih merantau ke Malaysia atau Kalimantan. Kusuma sendiri merasakan dampaknya, Bale-Bale Cafe tutup cukup lama.
“Sekarang ada harapan,’’  kata Kusuma yang kembali membangun sekaligus mulai membenahi Bale-Bale Cafe.
Harapan itu juga dirasakan Salman Hafiz, pengelola Lesehan Cahaya Tetebatu. Satu-satunya lesehan yang refresentatif di Desa Tetebatu dan Desa Kembang Kuning ini dibangun lantaran prediksi kebangkitan kembali pariwisata Tetebatu. Setiap pekan, tamu yang singgah mencicipi ikan bakar khas Tetebatu singgah di lesehatan tersebut. Wisatawan lokal pun demikian, mereka ramai-ramai liburan ke Tetebatu dan singgah mengganjal perut di Lesehan Cahaya Tetebatu.
“Pariwisata menggerakkan sektor ekonomi masyarakat,’’ katanya.
Salman yang lahir dan besar di Tetebatu merasakan ketika pariwisata booming dan terpuruk. Ketika booming, cukup mudah bagi remaja Tetebatu untuk mencari uang belanja. Mereka menjadi guide, menemani wisatawan jalan-jalan di sekitar Tetebatu. Anak-anak bisa mandiri bersekolah. Mereka tak perlu repot minta uang jajan ke orang tua. Salman juga merasakan ketika pariwisata lesu. 
“Banyak yang lari ke Malaysia,’’ ujarnya.

Ketika pariwisata kembali bangkit, Salman kembali bergairah. Dia aktif mempromosikan pariwisata Tetebatu melalui media sosial. Hidup di zaman serba internet, potensi terbesar promosi adalah melalui media sosial. Terbukti cara ini ampuh. Banyak wisatawan yang secara pribadi kemudian menghubungi Salman. Memintanya menjadi guide.
“Saya pernah menemani orang Belanda sampai tiga bulan. Dia penelitian sambil liburan juga,’’ katanya.
Pernah menjadi wartawan media elektronik dan cetak, Salman banyak tahu tempat wisata di Lombok. Begitu juga sentra kerajinan khas Lombok. Dalam sebulan terakhir dia menjadi guide wisatawan dari Swiss yang belajar kerajinan perak.
“Kemana pun saya temani liburan, pokoknya pulang menginap di Tetebatu,’’ katanya. (*)

Selasa, 20 September 2016

Mempertaruhkan Nyawa Demi Air Bersih

Kisah pilu datang dari bagian timur pulau Lombok, terdapat sebuah dusun kecil  yang memiliki Kurang Lebih 30 kepala keluarga, bertempat di Dusun Ketangga, Desa Sekaroh Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur.Seperti yang dikutip dari Lomboksecretstour.com

Sabtu pagi 17/09/2016, Sekilas tampak masyarakat dusun ini melakukan aktivitas pada umumnya seperti  berkebun, berternak yang dilakukan oleh kepala keluarga dan kegiatan masak memasak yang dilakukan oleh istri  dan anak-anak yang bergegas menuntut ilmu di sekolah yang cukup jauh jaraknya. Dusun ini juga belum sama sekali tersentuh dengan aliran listrik, normalnya listrik merupakan kebutuhan sehari-hari untuk masyarakat.

Pada siang itu Pak Sumi (64 Tahun) salah satu warga dusun ketangga beserta rekannya bergegas berjalan serta mimikul 2 buah ember untuk berjalan menuju arah tebing laut lepas pantai selatan beberapa kilometer guna mencari air bersih untuk kebutuhan air minum, mandi, masak,  mencuci dan wudhu.
  
Perjalanan pak sumi dan rekan beliau tidak begitu mulus menuju pusat air yang berada di tebing tersebut, beberapa kilometer berupa jalan landai dan selanjutnya menanjak ketempat tersebut. Setibanya di lokasi, nampak sebuah tangga yang terbuat dari tali berpijakan kayu yang bergelantungaan kebawah tebing sekitar 20 Meter lebih, dibawah tebing nampak sebuah wadah bebentuk sumur yang dibuat menggunakan semen dan batu-bata untuk menampung air yang menetes dari tebing. Semua itu dibuat oleh pak sumi dan rekannya guna mengambil air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tidak beberapa lama pak sumi pun turun perlahan-lahan menginjak tangga tali dan kayu menuju arah bawah tebing, tidak ada pengaman satupun yang digunakan pada tubuh pak sumi, angin kencang terasa dibawah tebing serta tanah tebing yang lembab sewaktu-waktu bisa membuat pak sumi terjatuh. Setibanya dibawah, pak sumi pun harus memastikan didalam wadah tersebut tidak ada tercapur air laut, kalo pun ada pak sumi terpaksa menguras wadah tersebut menggukan ember agar air tidak terasa asin. Pada tanggal 15-18 setiap bulannya ombak besar sering menghantam tempat tersebut, karna itu terkadang pak sumi harus bersusah payah menguras air yang masuk. Pak Sumi akan merasakan beruntung jika pada saat Pak Sumi berada dibawah tidak mendapatkan adanya air laut yang tercampur di wadah tersebut, sehingga pak sumi tidak perlu menunggu lama lagi agar ember dan tong air terisi penuh.

Setelah memastikan, rekan pak sumi menurunkan ember menggunakan kerekan timba yang dibuat secara bersama-sama. Pak sumi yang telah berada dibawah memasukkan air ke ember, lalu rekan pak sumi menarik dari atas tebing.  Setelah ember telah terisi penuh, pak sumi perlahan kembali menuju atas tebing. Kemudian di lanjutkan memikul ember menggunakan kayu dengan beban keseluruhan 50 kilogram, selain menahan beban yang berat pak sumi dan rekannya harus berjalan menuju dusunnya yang jauh tanpa menggunakan alas kaki dengan kondisi jalan menanjak dan panasnya terik matahari membakar kulit, dalam perjalanan menuju dusun pak sumi sering beristirahat untuk mengumpulakan tenaga dan melanjutkan kembali memikul air menuju dusunya.

Kegiatan tersebut sudah digelutin pak sumi selama 15 tahun dan setiap harinya mengambil air dan menuruni tebing 3 sampai 4 kali. Jika musim kemarau panjang datang pak sumi bisa melakukan hal tersebut puluhan kali untuk kebutuhan minum ternak.
Hasil wawancara Team Lombok 1000 Share Kepada Bapak Sumi

Apakah pernah mendapatkan bantuan air bersih dari pemerintah ?

 “Saya sering mendengar pemerintah membagikan air bersih , namun air bersih tersebut tidak pernah sampai di dusun kami, bahkan “setetespun” saya tidak pernah meminum airnya, bantuan justru kerap kali diberikan oleh warga asing yang pernah berkunjung”.

Sekiranya pak sumi diberi bantuan, apa yang ingin bapak minta ?

Pak sumi dengan polos menjawab “ jika air bersih kami tidak dapat, setidaknya diberikan bantuan semen dan besi, untuk meninggikan bangunan yang berada di tebing tersebut agar lebih banyak menampung air “ ujarnya.
Fakta Unik, Mengapa Anda Harus Mengunjungi Dusun Ketangga ?

Tahukah Anda ! Air yang di tampung oleh warga bukan bersumber dari mata air yang memiliki debit air besar, warga sekitar harus menunggu hingga 15 menit air penuh dengan ukuran ember cat 25 kilogram penuh.

Tahukah Anda ! setelah kami mencicipi rasa dan meminumnya, air yang berasal dari bawah tebing terasa hampir mirip seperti air Zamzam yang pernah kami rasakan sebelumnya, Apakah kandungan mineral atau faktor lain pada air tersebut yang membuat rasa hampir mirip seperti air Zamzam, kami belum menyelidiki lebih jauh kandungan air tersebut.

Tahukah Anda ! menuju ke Dusun Ketangga, Desa Sekaroh Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur, searah menuju Lokasi Wisata Pantai Pink Lombok jalur darat, Jadi buat anda yang akan berlibur ke pantai pink kami menyarankan anda untuk Mendonasikan / Menyumbangakn sebagian harta untuk dusun Ketangga.

Senin, 29 Agustus 2016

Desa Tetebatu

Terletak di ketinggian 500 - 600 meter diatas permukaan laut (dpl). Curah hujan 2000 s/d 2.500 mm pertahun, rata-rata 4 bulan/tahun. Suhu udara rata-rata 20 s/d 26 0C, tofografi adalah tanah berwarna keabuan, terkstur debuan dengan kedalaman 0.3 meter.

Luas wilayah ± 28 Km2. Komisi peruntukan : 35,585 Ha, untuk bangunan dan pekarangan termasuk pemukiman, sarana pendidikan/perkantoran, sarana umum, sarana olahraga, sarana ibadah dan sarana lainnya. Berikutnya, 354,104 Ha, untuk pertanian dan 258,340 Ha untuk tegal dan kebun.

Desa Selebung Ketangga

SEJARAH DESA SELEBUNG KETANGGA

Desa selebung merupakan desa tertua atau asli kapan mulai didirikan atau dibentuk secara permanen tidak dapat ditentukan. Tetapi berdasarkan kejadian-kejadian di tempat lainyang ada hubunganya denga berdirinya desa atara lain kejadian perang atara raja pejanggik dengan patihnya bajar getas yang mengundang raja bali karang asem.terjadinya pada tahun 1692,maka desa selebung ketangga ini didirikan setelah kerajaan bali menguasai seluruh pelau lombok yaitu pada tahun 1700,
Asal usul terbentuknya desa ini tidak terlepas dari kejadian perang patih banjar getas dengan raja pejanggik.adapun yang mendirikan desa ini dari keturunan demung pena. Demung pena merupakan raja kecil ( kedemungan ) dibawah kerajaan pejangik yang ikut juga di serang oleh pasukan raja bali. Sebagai akibatnya keturunan demung pena menyingkir kearah timur yakni desa joruwaru.
Jatuhnya kerajaan pejanggik sangat mempengaruhi keadaan kedemungan pena karna kaula bala ( rakyat ) pejanggik yang setia pada rajanya ikut mengkir ke parwa ( sakra .  di parwa datu pejanggik tidak lama karna mersa tidak aman di sebabkan karna pasukan patih banjar getas dan pasukan kerajaan bali terus memburunya, lalu datu pejanggik mengungsi kepulau sumbawa, sementara rakyat ada yang menetap di parw sakra dan ada yang ada yang ikut mengungsi.  Sementar kaula bala yang tnggal parwa sakra terus menerus membanbat hutan untuk perladangan  sampai kedaerah selatan, hal inilah yang mendorong untuk membendung pembabatan hutan.
Setelah seluruh kerajaan pejanggik takluk kepada kerajaan bali, maka raja bali mengkongsolidasaikan keadaan wilayah yang telah direwbutnya, masing-masing raja kecil atau desa tetaap memerintah di tempatnya asalkan tetap membayar upeti pada kerajaan bali. Tetapi mal petaka terjadi setelah raja bali memerintah di seluruh pulau lombok, keadaan iklim berubah selama tujuh tahun pulau lombok menjadi padang yaitu curah hujannya sedikit sehingga terjadi kekeringan, mak rakyat di pulau lombok puyung ( gagal panen).  Melihat keadaan ini terus menerus terjadi, akhirnya anak agung raja bali mengadakan munsyawarah dengan pimpinan sasak yang masih ada, antara lain ketiga bersaudara bekas wakil kedemungan pena.
Anak agung bertanya “ sebelum saya datang, apakah memang begini keadaan disini….? Di jawab oleh salah satu pimpinan sasak pada waktu itu, bahwa keadaan seperti ini tiidak pernah terjadi melainkan subur dan makmur.
Melihat musim kering yang berkepanjangan anak agung mointa raja pejanggik yang berada di pengungsiannya ( sumbawa ) kebali kepulau lombok untuk memerintah dan di pelakukan dengan baik oleh kerajaan bali. Untuk tugas mengfembalikan raja pejanggik dari pengungsianya, diutuslah nek riawangsa, nek riaman dan nek riani dari kedemungan pena, konon menurut cerita air laut berubah menjhadi darat sehingga mereka tidak memakai perahu melainkan jalan kaki itulah salah satu kesaktian yang mereka miliki, dan akhirnya setelah melakukan perjalanan sebanyak 3 kali maka mereka berhasil membawa pulang datu pemban ( datu pejanggik ) bersama keturunannya kepulau lombok.
Keberhasilan nek riawangsa dalam tugas ini membuat namanya makin tenar  baik terhadap ataasanya maupun kaula bala, sehingga pemilihan pipinan yang akan memimpin selebung ketanngga di tunjuklah nek riawangsa. Mulai saat itu dia  diberi gelar ( dijuluki ) di juluki nek gulangge di ambil dari nama raja yang sangat kuat dan gagah perkasa yang terdapat dalam cerita serat menak. Tetapi ada juga yang menyebut nek bulange ( artinya nek yang dibulang/diikat pedang pada pelangkek atau pergelangan tangannya).
Sedangkan saudara-saudaranya yang lebih tua tidak sanggup lagi untuk memimpin, cukup memeberikan nasehat karna usia yangh telah lanjut, mereka lebih mencari ketenagan hidup dengan mengerjakan kesenangan yangh mereka gemari yaitu memikat burung.
Sejak  saat itu nek gulanngge dianggap sebagai pimpinan pemerintahan pertama di desa selebung yang wilayah di bagi dua wilayah bekas kedemungan pena di mulai dari dusun para ( sekarang masuk desa semoyang lombok tengah ) sampai dusun tundak terus membelah dua kecamatan keruak yang sekarang. Sedangkan di bagian selatan di pegang oleh keluarga yang tetap tinggal di juruwaru
Pada pemerintahan nek gulangge, selebung sangat maju, kemakmuran dikalangan rakyat sangat nampak sekali sehingga orang-orang dari desa lain datang berbondon-bondong kedesa selebung.
Nek gulannge meniggal dunia dan dimakamkan di pemakaman buhlawang keruak bersama kedua saudaanya yakni nek riaman daan nek riani. Ketiga makam pediri  selebung ini masih utuh dan terawat  sapai sekarang yang terletek ditengah-tengah pekuburan umum buhlawang keruak.
Sepeninggal nek gulangge pemerintahan di lanjutkan oleh putranya yakni nek dulur, nek dulur diganti mamiq yusup. Pada masa pemerintahan ini terjadi ketidk stabilan sistem pemerintaha sehingga sedikit demi sedikit wilayah yang ada di bawah pemerintahan selebung melepaskan diridan masuk ke desa lain, seperti para di ambil oleh desa ganti, tundak dan sekitarnya masuk kedesa joruwaru.

Pada pemerintahan mamiq yusup teguran datang dari kerajaan bali ( anak agung ) karnamamiq yusup kurang aktif mengirim pengayah ( tenaga kerja ) yang bekerja untuk membangun bangunan pemerintahan kerajaan bali sehingga mamiq yusup ditahan dan di berhentikan karna tidak setia membayar upeti. Sebagai penggatinya di carilah menak selebung tetepi dikalangan menak selebung tidak ada yang sanggup.

Pada masa kerajaan bali di suku sasak, orang yang boleh jadi pemimpin atau kepala desa harus dari darah menak ( bangsawan ), oeleh karna tidak ada yang sanggup dari menak selebung maka dicarilah menak yang lain yakni menak ketangge, akhirnya di angkatlah mamiq asmia salah seorang menak ketangge untuk memimpin desa selebunga, setelah di adakan musyawarah dengan menak selebung maka pusat pemerintaha dialihkan didusun ketangga dan dengan demikian desa selebung diubah namanya dengan nama desa selebung ketangga. Mq asmia meninggal dunuia dan di makamkan di pemakaman buhlawang kemudian beliau di gantikan oleh putranya sendiri yakni Mq kertasih dan di sebut juga dengan nek wayah belang, dan pada saat inilah ada kepala agama atau penguhulu desa yang saat itu untuk pertama kalinya di pegang oleh Hajji muda.

Pada masa itu jabatan sangatlah penting, sehingga selain menjadi pemimpin agama juga  n sebagai Lit krama desa yaitu semacam penasehatb yang mendampinhgi kepala desa jika ada dikalangan masyarakat yang melanggar yang melanggar hukum agama, setelah Mq kertasi berusia lajut beliau digantikan oleh putranya yaitu Mq wirabakti, kemudian dia berhenti dan digantikan kakanya Mq ratmaji di sebut juga mamik ocet. Dan pada masa ini oleh pemerintahan kolonial belanda pusat pemerintahan harus di pusatkan di selebung sehingga nama desa menjadi selebung ketangga.

Pada tahun 1918 Mq ocet mengundurkan diri karna usia lanjut, kemudian diganti oleh putra   Mq kertayang, Mq kertqyqng menjadi kepala desa selama 35 dalam tiga zaman yaitu zaman pemerintahan kolonial belanda, zaman pendudukan jepang, dan sampai zaman kemerdekaan.

Pada zaman pedudukan jepang Mq kertayang nyaris di hukum mati oleh tentara jepang karna dituduh menimbun padi untuk sango ( bekal ) untuk melawan jepang padahal padi itu di kumpulkan oleh masyarakat untuk membangun masjid selebung secara permanen Mq kertayang memerintah sampai tahun 1955 dan dimakamkan di halaman masjid selebung berdampingan dengan makam h. abdullah dan Mq ratnawayang bekas penghulu   pemerintahan sudah di zaman kemerdekaan, maka untuk mencari penggatinya harus melalui pemilihan secara lansung dan demokrasi oleh masyarakat desa selebung.
Beberapa pejabat desa setelah pemilihan lansung oleh rakyat selebung:
MQ. WIRA JAGAT: (1953-1957), oleh karna administrasi pemerintahan desa pada waktu itu belum sempurna, maka pemilihan kepala desa pada waktu itu dapat kita sebut dengan pemilihan kepala desa zaman batu, mengapa di sebut zaman batu…? Karna pemlihan di gunakan batu sebagai surat suara.yang berhak memilih pada waktu itu hanyalah kepala keluarga yang laki saja dengan membawa sebuah batu kecil sebagai surat suara di taruh di tempat calon yang sudah di tentukan (tampa rahasia)di saksikan oleh semua masyarakat yang hadir. Bagi yang sudah memilih di kumpulkan di suatu tempat agar tidak bercampur dengan yang belum memilih.
H. KAMARUDIN:(1957-1966) pada tahun h. kamarudin menjabat kepala desa selebung ketangga, ada pemekaran desa di lombok timur tahun 1961, wilayah desa selebung ketangga bertambah dengan mwsuknya dusun mendane, sempong dan leng aluh bekas wilayah desa joruwaru.
LALU RATNADI (1957-1977) Menjabat menjadi kepala desa slama 2 priode.
LALU RATMAWE BA (1/9 – 1/10/1977) Sementara ada kepala desa difinitif maka L. ratmae BA menjadicamat keruak menjabat kepala desa selebung ketangga.
LALU WIRE BAKTI (1/10- mei 1978) karna ada kesibukan lain sebagai camat, maka camat keruak melimpahkan pada stafnya yakni L. wie bakti sebagai kepala desa selebung ketangga, sementara ada kepala desa yang dipinitif.
H. KAMARUDIN (MEI 1978- 15 OKTOBER 1984) H. Kamarudin kembali menjadi kepala desa uantuk satu kali masa jabtan.
LALU RUMENENG (15 OKTOBER- 17 JUNI 1985) L. rumeneng menjabat sebagai kepala desa sementara semetara di adakan pemilihan sesuai dengan undang-undang, pada saata itu L.rumeneng adalah sekdes.
LALU ANDJI (29 MEI 1985- 29 MEI 1993) untuk memenuhi uandang-undang no 5 tahun 1979 terpilihlah L. andji sebagai kepala desa selebung ketannga dengan masa jabatan 8 tahun.
HAMZAH (29 MEI 1993 – 7 SEPTEMBER 1993) Sebagai sekdes beliau di tunjuk untuk menjabat sementara ada kepala desa terpilih.
LALU ANDJI (8 SEPTEMBER 1993 – 8 SE ,PTEMBER 2001) Darhi hasil pemilihan L. andji untuk kedua kalinya terpilih sebagai kepala desa selebung ketangga dengan masa jabatan 8 tahun.
HAMZAH (10 SEPTEMBER 2001-11 SEPTEMBER 2002) sehubungan dengan  berakhirnya jabatan L. andji sebagai kepala desa, dalam rangka memperoses pemilihan kepala desa , di tunjuk sekretaris desa sebagai pejabat sementara.
Pada saat hamzah menjabat sebagai pejabat sementara  berlaku undang – undang baru sebbagai penggati undang – undang noi 5 tahun 1979 yang mengatur tentang desa yaitu udang- undang no 22 tahun 1999 yang berdasarkan undang- undang tersebut nama lebaga musawarh desa (LMD) di rubah menjadi badan perwakilan desa (BPD) denagan anggotanya diplih lansung oleh rakyat.
H. LALU MUSANIP (11 SEPTEMBER – 10 0KTOBER 2002) Be           rdasarkan undang – undang no 22 tahun 1999 masa baktii pejabat se mentara minimal sealama 1 tahun, di samping itu juga karna terjadi komplik di desa selabung ketangga yang di se babkan dari ketidak puasan sepihak dalam proses pemilihan kepala desa, maka di tunjuklah H. musanip staf kantor BPMD Kabupeten lombok timur sebagai pejabat sementara desa selebung ketannga.
DRS. SAHUDIN ( 10 0KTOBER 2002 - 10 OKTOBER 2007 ) Pada saat kepemimpin Drs sahudsin berlaku lagi undang – undang baru sebagi penggati undang – unndang no 22 tahun 1999 yaitu undang – undang no 32 tahun 2004, yang undang –undang tersewbut nama badan perwakilan desa ( BPD ) dirubah menjadi badan permusawaratan desa (BPD) yang keanggotaanya tidak lagi melalui proses pemilihan tetapi dipilih atas musawarah oleh masyarakat di tingkat dusun.
LALU WIRE NAME (22 AGUSTUS 2007 – 27 OKTOBER 2007) setelah masa jabatan kepala desa berakhir di tunjuklah pejabat sementara yakni nlalu wire name yang menjabat pelaksana tugas kasi pemerintahan camat keruuak sebagai pejabat sementara kepala desa karna Drs sahudin ikut juga dalam pencalonan kepala desa selebung ketangga.
DRS SAHUDIN ( 27 OKTEBER 2007 SAMPAI SEKARANG) untuk kedua kalinya Drs sahudin kembali terpilih sebagai kepala desa untuk yang kedua kalinya, dan masih memerjintabh sampai sekarang.
Ada beberapa faktor yng membuat masyarakat desa selebung ketangga, karna di selebung ketangga banyak lahan kering, dengan banyaknya lahan kering masyarakat menjadi lebih semangat bagaimana caranya bisa bercocok tanam dengan orang-orang yang berada di lahan subur, dengan begitu masyarakat selebung sekarang pda saat musim kering bisa menanam tembakau, pada saat musim hujan masyarakat bisa menanam padi yang cocok denga kelabihan air.

SEJARAH MIGRASI DESA SELABUNG KETANGGA

Yang petama kali bermigrasi di kampung wates dusun ketangga barat desa selebung ketangga yaitu Aq. Maryam bersama Mq tawar dan 23 orang lainnya dari desa- desa lain pada tahun 1979, temennya berangkat waktu itu bersama 25 orang yang di bawa oleh tekong dari sumbawa dengan biaya 20.000 Rp.
Aq. Maryam berangkat atas hipitan ekonomi karna Aq. Maryam adalah buruh tani , dan itunpun musiman, Aq. mariam tidak merasa cukup dengan pendapatannya sebagai buruh tani di dorong lagi dengan cerita - cerita dari orang-orang buntiang dan desa-desa lainya semakin memantapkan tekat Aq. Maryam, dan kebetulan ada  tekong dari sumbawa yang bernama Mursid dia datang sendiri keliling kekampung-kampung mencari BM ilegal.yang mau bekerja kemalasyia.
Aq maryam berangkat ke malasyia dengan temen 25 orang dengan jalur ilegal, naik perahu layar di tanjung luar menuju sumbawa, baru sampai sumbawa setelah semalam berada di perahu layar, di sumbawa Aq. Maryam di tampung selama 2 hari bersama temen- temennya yang 25 orang setelah di tampung selama 2 hari di sumbawa, baru naik perahu yang lebih besar lalu berangkat menuju batam kira-kira seminggu sampai di pulau sumatra baru baerhenti mengambil air dan melengkapi kebutuhan-kebutuhan yang lain, setelah semuanya dilengkapi lansung berangkat menuju kebatam, sampai di batam di tampung dulu kira-kira sampai 2 minggu oleh tekong yang ada dibatam, setelah dua minggu baru di berangkatkan menuju malasyia,sampai di malasyia setelah melakukan perjalanan selama 2 hari dari batam.
Aq. Maryam sampai di malasyia setelah melakukan pejalanan dari rumah, penampungan  baru bisa sampai ke malasyia selama 1 bulan setelah di malasyia Aq. Maryam kerja di kebun kelapa sawit dan selama Aq. Maryam di malasyia  tidak pernah mengirim uang selama, dia bekerja di malasyia yaitu selama 2 tahun.Setelah 2 tahun dia di malasyia, Aq. Maryam pulang dengan membawa hasil kerja di malasyia sebanya 2000 Ringgit malasyia, dia pulang menggunakan perahu menuju batam, di batam dia membeli tiket pesawat menuju jakarta, sampai di jakarrta dia membeli tiket bus menuju mataram lombok, dari jakarta menuju mataram baru sampai setelah melakukan perjalanan selama 3 hari setelah sampai di rumah Aq. Maryam menukar uangnya yang 2000 Rnggit  
Dengan hasil yang yang 1400.000 Aq maryam mkembangun rumah dan memenuhi kenutuhan hidunya sehari-hari, hasilnya itu tidak ada yang dipakai untuk kebutuhan lainya kecuali hanya untuk membangun rumah dan memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya.tepapi rumah yang di bangun hasil keringatnya sendiri di malasyia hanyalah tinggal puing – puing enangan saja.
rumpun, proses keberangkat tidak terlalu sulit, dan tidak terlalu membutuhkan keterampilan yang khusus.
Adapun dampak- dampak yang di timbulkan setelah bermigrasi kenegara lain yaitu: setelah pulang bermigrasi mereka bisa membuatkan dirinya lapangan pekerjaan dengan membeli sawah/menyewa lahan persawahan dengan hasi bekerja di negara lain, pemukiman di lingkungan mantan BM yang dulu kumuh menjadi lebih bersih paling tidak BM dengan hasil sebagai buruh migaran mereka bisa menata atau membersihkan pekaranganya dengan membuat pagar keliling yang dulu di pekarangan rumahnya banyak semak-semak atau ruput liar menjadi di tanami bunga bunga, dan yang dulu memelihara ternak beralih ke pemeliharaan motor, bangunan rumah yang dulu nmemekai arsitektur tradisional berubah menggunakan arsitektur bangunan modern. Budaya- budaya menjadi berubah yang dulu berpakain biasa –biasa berubah menggunakan pakaian-pakaian bermerk levi’s, kardinal dll, dari segi sikap yang dulu agak minder menjadi percaya diri karna pengaruh merasa sudah memiliki apa yang di miliki orang lain, dan berbahasa menggunakan kosa kata-kosa kata malasyia menjadi bahsa sehari hari, kosa kata yang sering di gunakan sehari-hari antara lain:  Mancis, tolak balik, makwe, trok, pusing balik, tak kire, stakat ddl\.
Anggapan masyarakat tentang BM perempuan di desa selebung biasa-biasa saja karna banyaknya BM perempuan yang sudah bolak balik menjadi tkw, dan kebiasanya sekarang labih banyak BM perempuan yang berhasil dari pada BM laki-laki tetapi kalau untuk anak-anak dilarang keras untuk menjadi BM karna masih belum layak melakukan pekerjaan- pekerjaan yang berat-berat tetepi ada juga yang melakukanya dengan memfiktifkan data dan sembunyi-sembunyi yang di fasilitasi oleh para calo( tekong ).
 Selama ini masih belum ada upaya-upaya yang di lakukan masyarakat untuk membantu korban buruh migran.

Profile Desa Selebung Ketangga
Luas wilayah desaselebung ketangga seluas 2, 92 KM persegi yang terdiri dari :
v  Lahan sawa                 :  713 ha
v  Pekarangan                  :  249 ha
v  Tegal                           :  199 ha
v  Lahan kering               :    82 ha
v  Kolam                         :      2 ha
v  Lain-lain                      :    90 ha
Jumlah dusun sebayak  kepala dusun yang terdiri dari :
§  Selebung
§  Kuang datuk
§  Peyelak
§  Dasan luah
§  Montong sari
§  Jero poto
§  Bintang oros
§  Bagik lunjer
§  Gon luek

Jumlah penduk yaitu 4577 jiwa yang terdiri dari :
ü  Penduduk laki-laki                        :  2625 jiwa
ü  Penduduk perempuan                   :  1952 jiwa
ü  Beragama islam                             : 4577 jiwa     
ü  Kepala keluarga                            : 1534 kk
ü  Penduduk miskin                          :   812  jiwa
Klasifikasi  lapangan kerja penduduk desa selebung ketangga yaitu:
v  Petani                                            : 1744 orang
v  Buruh tani                                     :   459 orang
v   Pedagang                                     :   321 orang
v  Montir/ Sopir                                 :     69 orang
v  Kariwan swasta                             :     87 orang
v  Pengerajin                                     :       3 orang
Tukang kayu/ batu, bangunan             :      58 orang
v  Pegawai negeri sipil                      :    128 orang
v  Guru                                              :    128 orang
v  Lain-lain                                        :    170 orang
Pedapatan perkapita penduduk desa selebunng ketangga Rp 500.000

Relasi perempuan di lingkungan keluarganya di desa selebung 80% di sektoer pertanian sebagai buruh tani dan ibu rumah tanngga, 15%nya berdagang, da 5%ny lain-ain,pengambil kabijakan rumah di dalam rumah tangga masih masih 85% pada suami, suami masih bersifat otoriter harus apa yang diputus diikutti oleh anggota keluargannya, istri hanya di jadikan bendahara apa yang mau di beli dan mau di kemanakan unag yang dikirimi suaminya itu harus menunggu keputusan sang suami, minsalnya mau di belikan motor maka haruas di beli dengan jenis dan merk motor yang di ingkan suami.
                  Ada beberapa lebaga formal desa yaitu BPD, LKMD, KARAN TARUNA, LSD dan PKK.
                        Peranan kelembagaan desa di selebung ketangga secara formal yaitu ikut merencanakan dan mengawasi pembangunan yang di laksanakan di desa .Peranan secara informal kelembagaan desa selebung ketangga yaitu sebagai panutan di masyarakat desa selebung ketangga.

                         Lembaga informal di desa selebung yaitu:
v  Kelompok banjar kematian.
v  Kelompo hiziban.
v  Kelompok persatuan adat desa selebung.
v  Gendang belek mendane.
v  Gendang belek semprong kwang datuk.
v  Gendang belek mandalika selebung
v  Cilokak buhlawang timur.

Orang-orangYang di tokohkan atau sebagai juru kunci di desa selebung ketangga yaitu ada 2 orang :
ü  PPN  H.LL. Fathurrahman Denga alamat dusun penyelak.

 Pontensi yang dapat di mamfaatkan di desa selebung ketanggg yaitu:
Ø  BUMDES (Badan usaha milik desa ), bumdes ini di mamfaatkan untuk mengelola usaha di desa di selebung ketangga.
Ø  Koprasi padeangen selebung, ini di bangun oleh kelompok masyarakat di selebung ketangga yang bermafaat untuk sipan pijam.
Ø  Koprasi unit desa. 
Ø  SPP PNPM mandiri

Adapun unit usaha yang di lakukan masyarakat selebung antara lain:
§  Pedagang kecil atau bakulan, ini banyak dilakukan oleh perempuan di wilayah selebung bagian selatan dengan menjual ikan yag sudah diproses oleh mereka sediri, dengan cara membeli ikan dari nelayan lalu di proses dalam bentuk ikan bakar ( maskan ), ikan pindang, dan ikan yang kering yang di keringkan dengan sinar matahari. Ini dijual di pasar keruak pada sore hari, ini sangat banyak orang yang membeli disana bukan hanya penduduk desa selebung ketangga tetapi banyak juga dari penduduk lainya din kec,keruak, kec.joruwaru, kec. Sakra timur,kec. Sakra barat, dan kec. Sakra, dan ad juga yang berjualan klkeliling.
§  Pedagang kios ini di lakukan sebagian kecil masyarakat selebung dengan menjual sembako.
§  Petani pengopen tembakau, ini banyak di lakunkan oleh mastyarakat selebung dengan menanam tembakau sampai peroses pengeringan tembakau dengan metode penopenan, ada juga yang hanya menanam tembakau, dan ada juga yang mengopen tembakau dengan membeli daun tembakau basah di petani yang hanya menanam saja.