Kamis, 22 September 2016

Tetebatu Lombok Timur

 
Jajarkarang.com. Udara bersih, kesegaran air, sawah hijau dengan latar Gunung Rinjani, keramahan warga membuat siapapun yang pernah ke Tetebatu ingin kembali lagi. Mereka serasa pulang kampung.
Sebuah pesan singkat masuk di HP butut Salman Hafiz, 30 tahun. Salah seorang kerabatnya meminta dia untuk menemani salah seorang tamu, perempuan muda dari Swiss. Perempuan itu ingin belajar kerajinan perak. Kerabatnya itu tidak lancar berbahasa Inggris. Salman yang pernah kuliah di jurusan Bahasa Inggris – namun tak selesai – pasti bisa menemani. 

Salman langsung kontak dengan perempuan itu, Fabienne Goldner. Seorang mahasiswi yang sedang liburan ke Indonesia. Dia memilih Lombok. Ketika browsing tentang Lombok, dia melihat tentang kerajinan perak. Dia tertarik untuk belajar. Sambil mengisi liburan panjangnya, rasanya tidak cukup sekadar berkunjung dari satu tempat wisata ke tempat wisata lainnya. Fabienne beruntung berkenalan dengan Salman. Salman tahu tempat perajin perak, dan Salman tidak asing dengan kerajinan itu. Sambil melihat cara pembuatan aneka kerajinan, seperti cincin, gelang, mata kalung, Salman menjadi penerjemah. 
Sebenarnya banyak tempat melihat kerajinan perak. Tapi Salman meminta tamunya itu belajar di Desa Lendang Nangka, Kecamatan Masbagik. Hanya 2 kilometer (km) dari Tetebatu. Pertimbangannya sederhana, Salman kenal dengan perajin itu, dan ini kesempatan baginya mempromosikan Tetebatu. Fabienne setuju. Sambil belajar kerajinan perak, setiap hari dia menikmati berbagai spot menarik di Tetebatu.

Namanya singkat, Bas. Dia mahasiswa pascasarjana antropologi di negaranya, Belanda. Dia mendapat izin penelitian di Indonesia. Melalui supervisor di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, dia memilih Lombok. Hasil browsing di internet, pria 29 tahun itu memilih Tetebatu sebagai tempatnya tinggal selama penelitian di Lombok. Padahal lokasi penelitiannya tersebar dari Kuta Lombok Tengah, Senggigi Lombok Barat, dan Gili Trawangan. Penelitiannya ada kaitan tentang pariwisata. 
Bas tidak keliru memilih Tetebatu sebagai tempat bermukim sementara penelitian. Walaupun bolak balik ke Lombok Tengah, bahkan sampai Lombok Barat, dia menyempatkan pulang ke Tetebatu. Selama di Tetebatu dia menginap di salah satu penginapan sederhana milik warga di Orong Gerisak.  Bas selalu rindu kembali ke rumah itu.

“Orang-orang Tetebatu menyenangkan,’’ kata pria murah senyum itu ketika saya temui di Tetebatu.

Bagi Fabienne dan Bas, tinggal di Tetebatu ibarat pulang ke rumah sendiri. Mereka tak berjarak dengan warga setempat. Walaupun mereka wisatawan, warga menganggap mereka bagian dari keluarga. Bas sering diajak menginap ke rumah warga. Begitu juga ketika ada pesta, Bas selalu diundang. Dari sana dia belajar cara hidup orang Lombok. Memakai sarung dan bersila, posisi duduk yang selalu menyiksanya. Tapi keramahan warga itulah yang membuat Bas senang diundang.

Fabienne pulang ke Swiss dengan oleh-oleh cincin perak. Cincin sederhana itu begitu berkesan. Dia sendiri yang membuatnya. Walaupun tidak sehalus cincin buatan perajin, baginya itu sangat memuaskan. Dan itu berkesan sekali baginya. Empat bulan kemudian, Fabienne kembali ke Indonesia. Dia langsung memilih Tetebatu. Kali ini dia membawa ibunya. Udara sejuk Tetebatu cocok bagi ibunya yang sudah tidak muda lagi. Fabienne serasa pulang kampung.

INILAH konsep wisata yang mulai digalakkan para pegiat wisata di Tetebatu dan Kembang Kuning. Wisatawan berinteraksi dengan warga sekitar. Wisatawan menyelami aktivitas warga. Dalam aktivitas tersebut, wisatawan memang tidak merogoh kocek. Tapi mereka betah tinggal di Tetebatu. Itu artinya makin banyak pemasukan bagi penginapan dan warung-warung makan yang mereka singgahi.
Saban hari, Musanif, Ketua Pokdarwis Kembang Kuning mengajak tamunya menyaksikan dari dekat proses pembuatan kopi. Bukan di cafe atau tempat khusus, tapi di halaman rumah warga. Agar rasa kampungnya terasa, dia meminta tamu itu memakai sarung. Tamu perempuan diminta memakai pakaian khas Sasak. Mereka layaknya pengantin. 

Di halaman yang tak terlalu luas, tanpa ada paving itulah para bule itu melihat langsung proses pembutan kopi yang mereka nikmati setiap pagi. Ketika mereka diajak untuk mencoba langsung menggoreng, menumbuk, dan menghaluskan, mereka dengan senang hati mencoba. Saking semangatnya, mereka mencoba semua. Plus langsung memasak air dan menyeduh kopi buatan mereka sendiri. Tawa tak henti-hentinya ketika mereka bercerita tentang pengalaman kepanasan saat menggoreng, tangan yang pegal ketika menumbuk.
“Kita buat mereka nyaman tinggal di Tetebatu,’’ kata Musanif yang sekaligus Manajer Pondok Bulan, sebuah penginapan gaya cottages di Tetebatu.

Fadli, pegiat wisata lainnya juga tidak ragu membawa tamunya masuk sawah. Bahkan para tamu yang diajak itu diminta membuka sepatu. Tidak ada sepatu boot disiapkan. Mereka “dipaksa” untuk nyeker dan masuk ke kubangan lumpur. Mencoba mencabut bibit padi, dan ikut menanam di sawah yang sudah disiapkan.
Kaki yang geli karena kali pertama menginjak lumpur, tangan dan punggung yang pegal lantaran tak terbiasa membungkuk menjadi cerita para bule itu setelah kembali ke penginapan. Tentu saja mereka tak ikut menanam padi hingga tuntas. Sekadar beberapa menit, ada puluhan foto yang tersimpan di dalam memori kamera mereka. Fadli yakin, para tamunya itu akan membagikan foto “unik” itu ke media sosial.
“Cerita dari wisatawan langsung ke temannya cukup efektif untuk promosi,’’ katanya.
Sejalan dengan wisata yang mau hidup, Pokdarwis Tetebatu dan Kembang Kuning membenahi beberapa objek wisata. Sebenarnya objek wisata di Tetebatu tidak menjadi favorit. Ada air terjun, tapi air terjun itu kalah tenar dan kalah indah dibandingkan air terjun lainnya, seperti Benang Stokel, Benang Kelambu, Sendang Gile, dll. Air terjun di Tetebatu paling tinggi hanya 6 meter. 

Air terjun kecil itu memang bukan tempat berlama-lama. Wisatawan hanya sekadar membasahi badan, atau mengikuti jalur hyking. Andalan Tetebatu dari sisi alam adalah hyking keliling desa. 
Sawah yang masih hijau dan luas menjadi daya tarik wisatawan untuk menjelajahinya. Saat perjalanan itulah tamu dibawa ke air terjun. Beberapa air terjun kecil yang ada di Tetebatu adalah Tibu Purit, Tibu Topat, Tetebatu Waterfall. Perjalanan menembus air terjun mini itulah sensasi wisatanya. Melewati pematang sawah dan harus berendam di sungai. Layaknya pecinta alam.

Air terjun dari sungai yang masih alami membuat wisatawan betah berendam. Airnya masih jernih. Tidak ada sampah dan kotoran. Selain itu, suasana sekitar air terjun itu begitu sunyi. 
Karena mulai ramai, jalur menuju air terjun itu diperbaiki. Tapi tetap mempertahankan keasliannya, jalan tanah. Ketika hujan jalan menjadi licin. Tapi tetap saja itu menjadi jualan berkunjung ke air terjun.
Selain air terjun kecil itu, di Desa Jeruk Manis (pemekaran Desa Kembang Kuning) air terjun Jeruk Manis menjadi daya tarik. Berada di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), pengunjung jalan kaki sekitar 30 menit. Treknya cukup datar. Dinaungi pepohonan, perjalanan dari pintu gerbang menuju air terjung terasa sejuk. 

Belakangan ini ketika pendakian booming, jalur lama menuju Rinjani dari Tetebatu kembali “dihidupkan”. Di era boomingnya pariwisata, banyak wisatawan yang ingin melihat keindahan Danau Segara Anak mengambil jalan pintas dari Tetebatu. Rutenya dari Tetebatu menuju Timbanuh melewati persawahan. Lalu setengah hari perjalanan dari Timbanuh bisa sampai ke titik Pelawangan Timbanuh. Dari atas itulah bisa menikmati keindahan Gunung Baru Jari dan Segara Anak. 
“Tidak direkomendasikan untuk turun ke Segara Anak, terlalu berbahaya,’’ kata Hayyi yang beberapa kali membawa tamu melewati rute Tetebatu – Timbanuh – Pelawangan Timbanuh.
Trek yang dilewati relatif beragam. Dari Tetebatu melewati persawahan. Lalu dari Timbanuh menuju Pelawangan Timbanuh melewati padang ilalang dan hutan yang tak terlalu lebat. Jika dibandingkan rute Sembalun, rute Timbanuh lebih pendek dan lebih landai. 
“Banyak tamu yang hanya sekadar ingin melihat Danau Segara Anak. Pilihannya jalur Tetebatu – Timbanuh,’’ katanya.

Di penginapan-penginapan yang ada di Tetebatu juga memberikan pelayanan ekstra bagi tamunya. Di Pondok Bulan misalnya. Malam hari, para tamu berbaur dengan staf di penginapan tersebut. Mereka membuat api unggun, main gitar dan nyanyi bersama. Bagi pemilik penginapan, tamu yang menginap adalah bagian anggota keluarga. Jika mereka senang, waktu tinggal bisa lebih lama. Boleh saja mereka liburan ke pantai, tapi tetap malam hari akan kembali ke Tetebatu. Mereka pulang kampung.
Bangkitnya Pariwisata Tetebatu
Geliat pariwisata di Tetebatu dan Kembang Kuning mulai bangkit. Digerakkan oleh para pemuda yang tergabung dalam Kelompok Sadar Pariwisata (Pokdarwis) Tetebatu dan Pokdarwis Kembang Kuning, mereka aktif berpromosi melalui media sosial dan menjalin kerja sama dengan pihak travel. Selain itu, mereka juga aktif menggelar berbagai event, mulai dari pentas seni, peresean, pendakian bersama, dan mengajak langsung wisatawan terlibat dalam berbagai kegiatan masyarakat desa.
“Wisatawan senang dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan di kampung,’’ kata pegiat wisata Tetebatu, Fadli.
“Sekadar menggoreng kopi saja, wisatawan asing senang dilibatkan,’’ sambung Ketua Pokdarwis Kembang Kuning, Musanif.
Sempat “tertidur” cukup panjang, kini pariwisata di Tetebatu dan Kembang Kuning boleh dikatakan bangkit kembali. Ini bisa dilihat dari kembali dibukanya beberapa penginapan. Dan yang membuat Fadli dan Musanif senang, wisatawan asing mulai kembali ke Tetebatu dan Kembang Kuning. Kehadiran mereka menjadi sinyal kuat jika pariwisata kembali ke dua desa di kaki Gunung Rinjani ini.
Di era 1990-an, Tetebatu kesohor hingga mancanegara. Wisma Soedjono, salah satu penginapan paling tua, seakan menjadi ikon Tetebatu. Namanya tercatat di dalam buku-buku pegangan pejalan. Ketika booming pariwisata, banyak bermunculan penginapan. Rumah-rumah penduduk disulap menjadi penginapan. Tak melulu penginapan mewah dengan beragam fasilitas, penginapan dari rumah bedek pun diburu. Wisatawan mencari sensasi tinggal di pedesaan. 

Tiap pekan ratusan wisatawan asing mampir ke Tetebatu dan Kembang Kuning. Sekadar melepas penat, dan sebagian menginap. Mereka biasanya meneruskan kunjungan ke sentra kerajinan  Loyok (bambu), Rungkang (gerabah), Pringgasela (tenun), Penakak Masbagik (gerabah). Di Tetebatu dan Kembang Kuning mereka menikmati keindahan alam. Gunung Rinjani terlihat kokoh dari dua desa ini. 
Bahasa Inggris seakan menjadi bahasa kedua di Tetebatu, setelah bahasa Sasak. Itu lantaran banyaknya wisatawan asing yang menginap dan berinteraksi dengan mereka. Tak sedikit juga orang asing yang tinggal cukup lama dan beberapa kembali lagi ke Tetebatu. Mereka betah dengan suasana pedesaan dan keramahan orang Tetebatu.

“Saya sampai diajak keliling Eropa sampai berbulan-bulan,’’ kenang Kusuma Adnan.
Kusuma dulunya guide dan pemilik Bale-Bale Cafe. Jangan tertipu dengan sebutan “cafe”. Pada dasarnya cafe itu adalah halaman rumahnya. Sangat sederhana. Di cafe sederhana itu, Kusuma menyediakan menu lokal, seperti pelecing, ayam bakar, tempe dan tahu goreng. Menariknya, wisatawan bisa langsung melihat dan mencoba memasak. 
“Krisis ekonomi yang pertama kali menghajar pariwisata,’’ kata pria yang kini mejadi guide di Gili Trawangan ini.
Tahun 1997 wisatawan yang berkunjung ke Tetebatu mulai berkurang. Tahun 1998, ketika reformasi bergulir, pariwisata seakan runtuh. Wisatawan yang berkunjung, khususnya wisatawan asing, turun drastis. Kadang dalam beberapa hari tidak ada sama sekali wisatawan. Keamanan menjadi alasan mereka takut ke Indonesia.

Peristiwa bom Bali I dan boma Bali II kembali memukul pariwisata. Dilanjutkan dengan peristiwa 171 di Mataram, membuat rontok pariwisata. Padahal di Tetebatu kondisi aman-aman saja.
“Tapi citra di luar secara keseluruhan Indonesia tidak aman,’’ katanya.
Rontoknya pariwisata itu bisa dilihat dari keberadaan art shop di Desa Loyok. Ketika pariwisata berjaya, sepanjang jalan utama di Desa Loyok, art shop yang menjajajak kerajinan tangan dari bambu berderetan. Tapi begitu pariwisata lesu, art shop itu banyak yang tutup. Begitu juga di Rungkang, perajin gerabah gulung tikar lantaran sepinya orderan.
Di Tetebatu juga kena imbasnya. Banyak penginapan yang dulunya berjaya, hidup kembang kempis. Rumah makan tutup. Penginapan-penginapan terpaksa merumahkan karyawan mereka lantaran sepinya tamu. Banyak pemuda yang akhirnya memilih merantau ke Malaysia atau Kalimantan. Kusuma sendiri merasakan dampaknya, Bale-Bale Cafe tutup cukup lama.
“Sekarang ada harapan,’’  kata Kusuma yang kembali membangun sekaligus mulai membenahi Bale-Bale Cafe.
Harapan itu juga dirasakan Salman Hafiz, pengelola Lesehan Cahaya Tetebatu. Satu-satunya lesehan yang refresentatif di Desa Tetebatu dan Desa Kembang Kuning ini dibangun lantaran prediksi kebangkitan kembali pariwisata Tetebatu. Setiap pekan, tamu yang singgah mencicipi ikan bakar khas Tetebatu singgah di lesehatan tersebut. Wisatawan lokal pun demikian, mereka ramai-ramai liburan ke Tetebatu dan singgah mengganjal perut di Lesehan Cahaya Tetebatu.
“Pariwisata menggerakkan sektor ekonomi masyarakat,’’ katanya.
Salman yang lahir dan besar di Tetebatu merasakan ketika pariwisata booming dan terpuruk. Ketika booming, cukup mudah bagi remaja Tetebatu untuk mencari uang belanja. Mereka menjadi guide, menemani wisatawan jalan-jalan di sekitar Tetebatu. Anak-anak bisa mandiri bersekolah. Mereka tak perlu repot minta uang jajan ke orang tua. Salman juga merasakan ketika pariwisata lesu. 
“Banyak yang lari ke Malaysia,’’ ujarnya.

Ketika pariwisata kembali bangkit, Salman kembali bergairah. Dia aktif mempromosikan pariwisata Tetebatu melalui media sosial. Hidup di zaman serba internet, potensi terbesar promosi adalah melalui media sosial. Terbukti cara ini ampuh. Banyak wisatawan yang secara pribadi kemudian menghubungi Salman. Memintanya menjadi guide.
“Saya pernah menemani orang Belanda sampai tiga bulan. Dia penelitian sambil liburan juga,’’ katanya.
Pernah menjadi wartawan media elektronik dan cetak, Salman banyak tahu tempat wisata di Lombok. Begitu juga sentra kerajinan khas Lombok. Dalam sebulan terakhir dia menjadi guide wisatawan dari Swiss yang belajar kerajinan perak.
“Kemana pun saya temani liburan, pokoknya pulang menginap di Tetebatu,’’ katanya. (*)

Gendang Beleq

Gendang Beleq. Disebut gendang beleq karena salah satu alat musiknya adalah gendang beleq (gendang besar). Okestra ini terdiri atas 2 buah yaitu:

Gendang mame (laki-laki).
Gendang nine (perempuan)
Keduanya berfungsi sebagai pembawa dinamika. Kemudian peralatan yang lainnya adalah :

Sebuah Gendang Kodeq (Gendang Kecil),
Dua Buah Reong Yang Terdiri Dari Reongmama Dan Reong Nina Berfungsisebagai Pembawa Melodi,
Sebuah Perebak Beleq Yang Berfungsi Sebagai Alat Ritmis,
Delapan Buah Perebak Kodeq,Disebut Juga “Copek”, Berfungsisebagai Alat Ritmis,
Sebuah Petuk Sebagai Alat Ritmis,
Sebuah Gong Besar Sebagai Alat Ritmis,
Sebuah Gong Penyentak Sebagai Alat Ritmis,
Sebuah Gong Oncer Sebagai Alat Ritmis, Dan
Dua Buah Bendera Merah Atau Kuning Yang Disebut Lelontek.
Gendang beleq ini dulu dimainkan kalau ada pesta-pesta kerajaan, sedangkan kalau perang berfungsi sebagai komandan perang, sedangkan copek jadi prajuritnya. Kalau perlu datu (raja) ikut berperang, di sini payung agung akan digunakan. Sekarang fungsi payung ini ditiru dalam upacara perkawinan. Gendang beleq dapat dimainkan dengan berjalan atau duduk. Komposisi berjalanmempunyai aturan tertentu, berbeda dengan duduk yang tidak mempunyai aturan. Pada waktu dimainkan pembawa gendang beleqakan memainkannya sambil menari. Dikutip dari Lombok.Biz

Selasa, 20 September 2016

Mempertaruhkan Nyawa Demi Air Bersih

Kisah pilu datang dari bagian timur pulau Lombok, terdapat sebuah dusun kecil  yang memiliki Kurang Lebih 30 kepala keluarga, bertempat di Dusun Ketangga, Desa Sekaroh Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur.Seperti yang dikutip dari Lomboksecretstour.com

Sabtu pagi 17/09/2016, Sekilas tampak masyarakat dusun ini melakukan aktivitas pada umumnya seperti  berkebun, berternak yang dilakukan oleh kepala keluarga dan kegiatan masak memasak yang dilakukan oleh istri  dan anak-anak yang bergegas menuntut ilmu di sekolah yang cukup jauh jaraknya. Dusun ini juga belum sama sekali tersentuh dengan aliran listrik, normalnya listrik merupakan kebutuhan sehari-hari untuk masyarakat.

Pada siang itu Pak Sumi (64 Tahun) salah satu warga dusun ketangga beserta rekannya bergegas berjalan serta mimikul 2 buah ember untuk berjalan menuju arah tebing laut lepas pantai selatan beberapa kilometer guna mencari air bersih untuk kebutuhan air minum, mandi, masak,  mencuci dan wudhu.
  
Perjalanan pak sumi dan rekan beliau tidak begitu mulus menuju pusat air yang berada di tebing tersebut, beberapa kilometer berupa jalan landai dan selanjutnya menanjak ketempat tersebut. Setibanya di lokasi, nampak sebuah tangga yang terbuat dari tali berpijakan kayu yang bergelantungaan kebawah tebing sekitar 20 Meter lebih, dibawah tebing nampak sebuah wadah bebentuk sumur yang dibuat menggunakan semen dan batu-bata untuk menampung air yang menetes dari tebing. Semua itu dibuat oleh pak sumi dan rekannya guna mengambil air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tidak beberapa lama pak sumi pun turun perlahan-lahan menginjak tangga tali dan kayu menuju arah bawah tebing, tidak ada pengaman satupun yang digunakan pada tubuh pak sumi, angin kencang terasa dibawah tebing serta tanah tebing yang lembab sewaktu-waktu bisa membuat pak sumi terjatuh. Setibanya dibawah, pak sumi pun harus memastikan didalam wadah tersebut tidak ada tercapur air laut, kalo pun ada pak sumi terpaksa menguras wadah tersebut menggukan ember agar air tidak terasa asin. Pada tanggal 15-18 setiap bulannya ombak besar sering menghantam tempat tersebut, karna itu terkadang pak sumi harus bersusah payah menguras air yang masuk. Pak Sumi akan merasakan beruntung jika pada saat Pak Sumi berada dibawah tidak mendapatkan adanya air laut yang tercampur di wadah tersebut, sehingga pak sumi tidak perlu menunggu lama lagi agar ember dan tong air terisi penuh.

Setelah memastikan, rekan pak sumi menurunkan ember menggunakan kerekan timba yang dibuat secara bersama-sama. Pak sumi yang telah berada dibawah memasukkan air ke ember, lalu rekan pak sumi menarik dari atas tebing.  Setelah ember telah terisi penuh, pak sumi perlahan kembali menuju atas tebing. Kemudian di lanjutkan memikul ember menggunakan kayu dengan beban keseluruhan 50 kilogram, selain menahan beban yang berat pak sumi dan rekannya harus berjalan menuju dusunnya yang jauh tanpa menggunakan alas kaki dengan kondisi jalan menanjak dan panasnya terik matahari membakar kulit, dalam perjalanan menuju dusun pak sumi sering beristirahat untuk mengumpulakan tenaga dan melanjutkan kembali memikul air menuju dusunya.

Kegiatan tersebut sudah digelutin pak sumi selama 15 tahun dan setiap harinya mengambil air dan menuruni tebing 3 sampai 4 kali. Jika musim kemarau panjang datang pak sumi bisa melakukan hal tersebut puluhan kali untuk kebutuhan minum ternak.
Hasil wawancara Team Lombok 1000 Share Kepada Bapak Sumi

Apakah pernah mendapatkan bantuan air bersih dari pemerintah ?

 “Saya sering mendengar pemerintah membagikan air bersih , namun air bersih tersebut tidak pernah sampai di dusun kami, bahkan “setetespun” saya tidak pernah meminum airnya, bantuan justru kerap kali diberikan oleh warga asing yang pernah berkunjung”.

Sekiranya pak sumi diberi bantuan, apa yang ingin bapak minta ?

Pak sumi dengan polos menjawab “ jika air bersih kami tidak dapat, setidaknya diberikan bantuan semen dan besi, untuk meninggikan bangunan yang berada di tebing tersebut agar lebih banyak menampung air “ ujarnya.
Fakta Unik, Mengapa Anda Harus Mengunjungi Dusun Ketangga ?

Tahukah Anda ! Air yang di tampung oleh warga bukan bersumber dari mata air yang memiliki debit air besar, warga sekitar harus menunggu hingga 15 menit air penuh dengan ukuran ember cat 25 kilogram penuh.

Tahukah Anda ! setelah kami mencicipi rasa dan meminumnya, air yang berasal dari bawah tebing terasa hampir mirip seperti air Zamzam yang pernah kami rasakan sebelumnya, Apakah kandungan mineral atau faktor lain pada air tersebut yang membuat rasa hampir mirip seperti air Zamzam, kami belum menyelidiki lebih jauh kandungan air tersebut.

Tahukah Anda ! menuju ke Dusun Ketangga, Desa Sekaroh Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur, searah menuju Lokasi Wisata Pantai Pink Lombok jalur darat, Jadi buat anda yang akan berlibur ke pantai pink kami menyarankan anda untuk Mendonasikan / Menyumbangakn sebagian harta untuk dusun Ketangga.

Minggu, 18 September 2016

Air Terjun Sekeper, Air Terjun Tertinggi di Pulau Lombok

Air Terjun Sekeper
Lombok, kamu sedang berada di pulau dengan julukan “Pulau Seribu Masjid”? Kalau iya, wajib nih, menjelajah keindahan-keindahan yang tersembunyi di Pulau Lombok. Jika berwisata ke pantai mungkin sudah terlalu mainstream, kamu bisa merasakan sensasi berpetualang di Lombok, guys!

Nah, jika kamu gemar berpetualang dan menjelajah alam, berwisata ke air terjun pasti cocok untukmu. Selain mencoba menaklukan alam dalam perjalanannya, kamu pun akan disuguhi kesejukan dan keasrian alam lewat percikan air yang bertemu padu di daun atau pun bebatuan.

Selain air terjun populer seperti Air Terjun Tiu Teja, Air Terjun Batu Apeq dan Air Terjun Tiu Bombong, di hutan Santong, Lombok, masih ada lagi air terjun yang pesonanya dapat membuat kamu menganga. Namanya adalah Air Terjun Sekeper. Air terjun dengan ketinggian 110 m ini merupakan air terjun tertinggi yang ada di Pulau Lombok.

Derasnya air yang mengalir dari ketinggian 110 m, akan menciptakan sensasi kesejukan yang luar biasa. Selain itu, pemandangan hijau dan suasana tenang akan segera merefresh otak kamu untuk sekejap melupakan hiruk pikuk dan bisingnya kota. Polusi, jelas-jelas tidak akan kamu temukan di sini, yang ada hanyalah aroma segar dedaunan yang menguap setelah basah oleh percikan air.

Jika kamu penasaran, langsung saja datang ke Desa Weker, Desa Santong, Kecamatan Kanyangan, Kabupaten Lombok Utara, Propinsi Nusa Tenggara Barat. Air Terjun Sekeper, terletak di atas (hulu) Air Terjun Tiu Teja. Memang letaknya jauh dari Pusat Kota Mataram, sekitar empat jam perjalanan. Dua jam pertama digunakan untuk mencapai pelataran parkir lokasi Air Terjun Tiu Teja dengan menggunakan kendaraan.  Untuk mencapai lokasi Air Terjun Tiu Teja itu sendiri, kamu dapat menggunakan kendaraan roda dua atau empat dengan rute Mataram – Gunung Sari – Pusuk – Pemenang – Tanjung – Godang – Ledang – Santong.

Fotografer : Nandy Fahmi

Bukit Pergasingan Sembalun, Puncak Terbaik Lombok yang Tak Kalah dengan Rinjani

bukit pergasingan
Tak ada yang tak menarik dari Lombok! Tentang Gunung Rinjani yang menjadi salah satu gunung impian para pendaki. Tentang wisata pantai Lombok yang semakin jauh meninggalkan Bali. Tentang desa-desa tradisional yang disulap menjadi tempat wisata karena keunikannya. Atau tentang kulinernya yang membuat siapa saja penikmatnya akan selalu mengingat-ingat Lombok.

Satu hal lagi tentang Lombok, yakni tentang Bukit Pergasingan. Dari sisi keindahan jika dibandingkan dengan Gunung Rinjani, Bukit Pergasingan tak kalah cantik. Dari sisi ketinggian, perjalanan Bukit Pergasingan relatif lebih singkat. Hanya setinggi 1.670 mdpl yang hampir mencapai dua kali lipat dari Gunung Rinjani 3726 mdpl. Dari puncak Bukit Pergasingan, barisan petak-petak sawah tertata rapi terlihat berwarna-warni. Sawah yang fungsinya pun sama dengan sawah-sawah yang tak jauh dari rumah kita. Tapi pemandangan sawah di Bukit Pergasingan terlihat sangat menawan. Memandang ke depan, pemandangan hijau 180 derajat siap menyambutmu untuk senantiasa bersyukur. Tangga setinggi 105 dengan kemiringan 70 derajat menjadi babak rintangan pertama yang harus kamu tempuh.Seperti yang di kutip dari Phinemo.

Apakah jauh-jauh pergi ke Lombok hanya untuk melihat petakan sawah?, ini menjadi bagian dari pertanyaanmu kepada para pejalan yang pernah menjejakkan kaki di sini?

Mungkin pemandangan petak sawah di dekat rumahmu bisa lebih cantik dari pada Bukit Pergasingan. Tapi, suatu tempat tak akan pernah memberikan rasa sama. Selalu ada aromatik dan cerita berbeda dari kunjungan kita ke suatu tempat.

Pantai Tanjung Bloam

Tanjung Bloam Lombok
Bosan dengan nuansa pantai dan view alam yang itu itu saja? Yuk jejakkan kaki di bagian selatan pulau Lombok dan dapatkan beberapa spot keindahan alam yang terlupakan disini. Salah satu diantara deretan deretan pantai yang masih tak tersentuh itu ada pantai Tanjung Bloam, sebuah pantai nan eksotik yang masih bertetangga dengan pantai Kaliantan dan pantai Tanjung Ringgit yang mungkin sering anda dengar. Seperti yang di kutip Wisata Lombok

Tanjung Bloam lebih dikenal sebagai wilayah konservasi penyu dengan habitatnya yang berada di sepanjang garis pantai yang memanjang dari ujung selatan sampai ujung utara. Selain penyu, Pantai Tanjung Bloam memiliki keindahan alam yang begitu alami dan hampir terlupakan oleh para wisatawan. Begitu tiba di pantai ini, anda akan disuguhkan dengan hamparan pasir putih yang begitu lembut dan air laut yang jernih membiru. Panorama keindahan alam di tempat ini sesekali akan diselingi oleh hilir mudiknya para nelayan yang mencari ikan dengan perahu-perahu kecil mereka.

Daya tarik pantai ini lebih menonjolkan panorama batuan cadas yang begitu menakjubkan seperti lukisan seorang pelukis ulung yang tak ternilai harganya. Dua buah tebing batuan cadas yang mengapit Tanjung Bloam ini memang sangat eksotis, pada sisi kirinya akan terlihat sebuah tebing berbentuk bakpao, dan di sisi kanannya akan anda lihat sebuah tebing cadas tak beraturan yang menjorok ke pantainya. Warna batuan di tebing yang kuning keemasan dengan corak corak hitam tak beraturan menjadikannya terlihat begitu kontrak dan warna dasar pantai yang membiru.

Keindahan Tanjung Bloam sedikit mirip dengan pantai Tanjung Ringgit yang bertekstur alam yang dikelilingi bukit bukit berbatu. Bagi pemburu spot photography, pantai Tanjung Bloam adalah tempat yang luar biasa untuk di jelajah. Telusuri lah pesisir pantainya dan temukan spot yang bagus dengan angle-angle yang begitu menakjubkan untuk di abadikan dengan bidikan camera.
Keindahan pantai dengan nuansa alam yang lain akan semakin banyak anda lihat jika sedikit berusaha naik ke atas bukit batu. Dari sudut ini anda akan melihat hamparan pantai yang begitu mempesona. Berfoto dengan latar tebing dan batuan cadas yang di pantai Tanjung Bloam akan menjadi memory yang sulit untuk dilupakan. Ombak di pantai Tanjung Bloam tergolong dalam kategori ombak yang sedikit besar. Jika tidak ingin terbawa arus, sebaiknya bersantai saja di pesisir pantai sambil menikmati keindahan sekitarnya.

Fotografer: Nandy Fahmi

Pantai Semeti Lombok Tengah

Pantai semeti lombok
Kecantikan dan keelokan pulau Lombok di mata dunia mampu menembus urutan kedua tujuan pariwisata terbaik kedua setelah Cina. Tidak terelakkan lagi, Lombok menjadi tujuan utama para Wisatawan Mancanegara. Hal ini di samapaikan langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat H. Lalu M Faozal S.Sos,MSi di sela sela Penutupan Bulan Budaya Lombok Sumbawa (BBLS) 2016 (16/09/2016) di Pantai Senggigi.

Termasuk salah satu pantai cantik yang ada di Lombok itu adalah Pantai Semeti. Pantai Semeti adalah salah satu dari ratusan tempat wisata yang ada di Lombok. Pantai ini bersebelahan langsung dengan Pantai Mawi - Lombok Tengah. Pantai Semeti adalah salah satu gili yang terletak di Kabupaten Lombok Tengah provinsi Nusa Tenggara Barat, di gili inilah ribuan surga-surga kecil dihempaskan oleh indahnya tangan Tuhan, salah satu dari sekian banyaknya surga-surga kecil itu bisa anda nikmati di pesisir pantai ini. Perjalanan menuju pantai ini cukup menguras tenaga,karena harus melewati jalan setapak yang berbatuan.

Semeti nama pantai di sebelah tenggara pulau Lombok ini. Memang cukup sulit untuk ditemukan. Tersembunyi di balik jejeran perbukitan menghijau daerah Selong Belanak yang eksotis. Membutuhkan waktu tempuh 2 jam perjalanan dari Senggigi untuk membuktikan keindahannya yang elok tersebut.

Kondisi jalan yang rusak parah bukanlah suatu halangan untuk menikmati keindahan yang memukau mata, bersemangatlah jangan menyerah karena di depan sana pantai yang indah akan menyambut kedatangan anda dengan ramah.

Pantai semeti adalah pantai berpasir putih sama seperti Pantai Kuta Lombok, namun ada beberapa yang membedakan pantai ini dengan pantai lainnya di Pulau Lombok diantaranya adalah bebatuan karang dan birunya air laut menjadi salah satu daya pikat bagi para wisatawan lokal maupun asing.

Di pantai ini terdapat hamparan batu karang yang luas membuat kita akan berlama-lama karena kita akan fokus mencari binatang-binatang laut yang tersesat di antara batu karang tersebut. Selain itu pantai ini juga sangat bagus dijadikan sebagai obyek fotografi atau sebagai latar belakang bagi anda yang narsis.

Pantai Semeti terletak di kawasan Selong Belanak. Di kawasan ini terdapat pantai-pantai indah lainnya antara lain Pantai Selong Belanak sendiri, Pantai Mawun, Pantai Ruwuk dan Pantai Mawi. Sekumpulan pantai yang indah yang merupakan sebagian kecil pantai-pantai di Lombok. Jika pantai Mawi penuh dengan para peselancar. maka Semeti penuh dengan keheningan. beberapa Nelayan itu de ketahui berasal dari daerah Kuta, jadi sejatinya pantai ini benar-benar sepi. Sangat cocok untuk bersantai seharian.

Fotografer: Nandi Fahmi