Kamis, 06 Oktober 2016

Gubernur Canangkan Program Desa Benderang Informasi Publik pertama di Indonesia


Tidak kurang dari 995 kepala desa se-Nusa Tenggara Barat memenuhi Rinjani Ballroom, Hotel Lombok Raya untuk mengikuti kegiatan Pencanangan Desa Benderang Informasi Publik (DBIP) bagi 995 Desa se-NTB, Kamis (06/10/2016). Kegiatan yang digelar Komisi Informasi Provinsi Nusa Tenggara Barat tersebut juga diikuti seluruh Camat. Tidak Ketinggalan, Seluruh Bupati se-NTB turut hadir menyaksikan kegiatan yang pertama di Indonesia tersebut.

Gubernur NTB, Dr.TGH. M. Zainul Majdi mencanangkan program tersebut dan berpesan kepada seluruh kepala desa untuk membangun komitmen dalam membangun daerah, khususnya menyampaikan informasi pembangunan secara terbuka kepada khalayak umum.

“Bapak ibulah yang menjadi ujung tombak yang melaksanakan semua program pembangunan, sehingga sukses atau tidak suksesnya pembangunan di Nusa Tenggara Barat ini sangat bergantung pada Bapak/Ibu sekalian,” ungkap gubernur yang disambut tepuk tangan ratus kepala desa tersebut.

Menurut Gubernur, bentuk komitmen yang dapat dilakukan dengan menyediakan sarana-sarana keterbukaan informasi, seperti menyediakan papan informasi atau membuat website untuk menyampaikan perkembangan desa, baik keuangan maupun infrastruktur kepada masyarakat.

“Komitem itu harus mulai dari kesadaran bahwa keterbukaan informasi itu sangat membantu melaksanakan tugas. Keterbukaan informasi itu tidak menyulitkan tapi justru membantu. Karena dengan keterbukaan informasi tersebut akan tumbuh pertisipasi publik,” tutur orang nomor satu di NTB tersebut.

Gubernur berharap pencanangan program tersebut dapat berjalan sukses dan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat untuk kepentingan pembangunan. Sebagai bentuk komitmen tersebut, seluruh Bupati se-NTB bersama Gubernur menandatangani MUO untuk keterbukaan informasi, yang disaksikan Dirjen Pembangunan Daerah Tertentu, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI, Dr.Ir Suprayoga Hadi, M.S.P.

Sementara itu, Dirjen Pembangunan Daerah Tertentu, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI, Dr.Ir Suprayoga Hadi, M.S.P. menyampaikan keterbukaan informasi tersebut akan memberikan peluang bagi masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam pembangunan.

“Mayarakat dapat ikut dalam pembangunan-pembangunan kemasyarakatan, promosi pembangunan desa serta pembangunan-pembangunan lain yang berkembang di desa,” jelasnya di hadapan gubernur dan peserta yang hadir.



Rabu, 05 Oktober 2016

Pemandian Air Panas Segara Anak

pemandian air panas lombok
Tak jauh dari Segara Anak, terletak sekitar 200 meter di sebelah timur camping ground, terdapat sumber mata air panas. Oleh masyarakat, sumber mata air panas ini dinamakan dengan Aik Kalak. Aik artinya air, dan kalak artinya panas. Saya sendiri menemukan sumber mata air ini ketika dalam perjalanan mengambil air bersih yang letaknya tidak jauh dari Aik Kalak.

Dari kejauhan, bentuk sumber mata air panas ini seperti air terjun yang menggemericik dari atas dengan uap panas yang mengepul. Tak butuh waktu lama sampai ke lokasi dari segara anak Ada beberapa kolam yang ada di sekitar pemandian air panas. Konon menurut penuturan beberapa pendaki dan warga yang ada di lereng gunung, berendam di pemandian itu dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, terutama penyakit kulit. 

Menurut beberapa kepercayaan, sumber air panas Aik Kalak sebenarnya juga menyimpan beberapa rahasia. Katanya, di kolam ini biasa dipakai untuk menguji kesaktian atau kekebalan suatu benda pusaka. Jika benda pusaka itu dicelupkan dalam air kolam yang paling atas bentuk atau rupanya tidak berubah (kebal) berarti benda pusaka itu bagus alias bertuah. Tapi jika berubah menjadi lengket, lembek, atau berubah bentuk maka benda pusaka itu jelek. Lain lagi ceritanya, ada juga yang percaya jika merendam minyak kelapa dalam botol di dalam kolam ini dan minyaknya berubah menjadi bening maka minyak kelapa itu diyakini bisa menyembuhkan banyak macam penyakit. 

Namun perlu di perhatikan jika habis mandi sebaiknya juga jangan langsung melanjutkan perjalanan mendaki gunung. Sebab, perbedaan suhu yang terlalu ekstrim dari panas terus dingin bisa berefek bahaya buat tubuh, karena proses aklimasi (beradaptasi) dipaksa dalam waktu yang cepat.

Sumber foto: Rahman Dogox

Siswa SMPN 4 Satap Suela belajar didalam Kandang

SMPN 4 Satap Suela
Potret minimnya fasilitas pendidikan kembali terlihat dalam kehidupan masyarakat NTB. Kali ini SD-SMP Satap 4 Desa Mekarsari Lombok Timur menjadi alarm pemanggil agar Pemerintah secepatnya memfasilitasi pembangunan sekolah yang layak dan nyaman bagi pelajar. Saat ini mereka belajar hanya dengan beratap terpal dan berdinding dari daun kelapa.

‎Terletak di tengah ladang warga yang hanya dinding sekolah menggunakan pelepah daun kelapa dan atapnya menggunakan terpal. Tak ayal sekolah akan banjir ketika musim hujan dan sengatan panas ketika musim kemarau.

Bangunan sekolah SMPN 4 Satap Suela Desa Mekarsari Kecamatan Suela Kabupaten Lombok Timur yang berdiri sejak Tahun 2012 ini Tidak Layak Pakai/Kekurangan Ruangan Belajar  Karena Masih Menggunakan Pagar Seadanya.

Kendati demikian siswa siswinya tetap semangat dan tidak pantan mundur untuk belajar. Justru dengan keadaan saat ini mereka tetap saling dukung, bahu membahu satu sama lain. Sehingga mengharuskan mereka menikah di usia dini. Atas dasar Itu dibentuklah Smp yang berlokasi di bekas SD 6 Prigi ini sehingga disebut SD SMP Satap 4.

“Untuk mendaptkan pendidikan yang layak,orang tua siswa/siswi terkendala ekonomi dan jauhnya lokasi sekolah. Mereka harus menempuh perjalanan kaki hingga 2km baru bisa mengenyam pendidikan di sekolah yang lebih layak. Hal inilah yang mendorong orang tua murid untuk tetep menyekolahkan anaknya disini. Walau beratapkan terpal dan berdindingkan daun kelapa siswa dan siswi tetap semangat menuntut ilmu. Terkadang kami kasihan sama anak anak belajar ditempat yang tidak selayaknya mereka tempati”. Tapi mau gemana lagi ujarnya bapak Muhammad Sobirin,selaku Kepala Smp Satap 4 Perigi.

Meski sekolah tersebut beratap terpal namun semangat siswa dalam belajar tetap mengepal, bahkan para guru tidak surut tekadnya untuk mengajar meskipun mendapat imbalan dengan hasil yang tak wajar,hanya Rp.225.000 pertiga bulan.

“Sampai hari ini saya dan teman teman guru yang lain bertahan di sekolah ini bukan karena apa,tapi karena terpanggil untuk memebrikan pengetahuan dan pendidikan yang layak kepada adek adek kami agak kelak menjadi anak yang di banggakan oleh nusa bangsa dan orang tua pada hususnya. KAlau masalah gaji memang masih jauh, untuk membeli sabun mandi saja tidak cukup. Tapi kami ihlas untuk kebaikan masa depan adek adek kami, mungkin disini gaji kami sedikit tapi Insya Allah pasti ada rizki lain yang sudah di siapkan oleh Allah” Susnia Susilawati,salah satu guru honorer yang mengabdi.

Kalaupun sekolah itu masih berdiri seadanya, itu semata hanya disokong harapan warga akan masa depan anaknya. Bukan hanya dalam hal pendidikannya saja. SMP tersebut memberi dampak positif bagi warga yang mayoritas berprofesi sebagai petani





























Tradisi Presean Suku Sasak

presean suku sask
Peresean adalah salah satu seni tradisinal pertarungan antara dua orang petarung (pepadu) jawara asli suku sasak di Lombok. Peresean merupakan simbol kejantanan suku sasak di Pulau Lombok. Para Petarung dilengkapi rotan sebagai pemukul disebut penjalindan Ende (perisai0 sebagai pelindung yang terbuat dari  kulit sapi atau kulit kerbau.

Presean atau bertarung dengan rotan adalah budaya dari Suku Sasak yang unik. Pada awalnya Presean hanya dilakukan saat upacara adat yang selalu dilaksanakan pada bulan tujuh (kalender Sasak) untuk meminta hujan. Namun kini Presean kerap dilakukan pada perayaan hari kemerdekaan RI dan menjadi tontonan yang unik dan diminati wisatawan.

Presean ini dilakukan oleh dua orang lelaki suku Sasak yang bersenjatakan tongkat rotan (penjalin) dan memakai perisai sebagai pelindung yang terbuat dari kulit kerbau tebal yang biasa disebut Ende. Pertarungan ini dipimpin oleh dua wasit, yakni Pakembar Sedi yaitu wasit yang berada di pinggi lapangan dan Pakembar Tengaq, yaitu wasit yang berada di tengah lapangan. Selama pertarungan berlangsung, masing-masing petarung atau pepadu saling menyerang dan menangkis sabetan lawan dengan menggunakan Ende. Petarungan diadakan dengan sistem 5 ronde. Pemenang dalam Presean ditentukan dengan dua cara yaitu ketika kepala atau anggota badan salah satu petarung mengeluarkan darah, maka pertarungan dianggap selesai dan pihak yang menang adalah yang tidak mengeluarkan darah. Kedua, jika petarung sama-sama mampu bertahan selama 5 ronde, maka pemenangnya ditentukan dengan skor tertinggi. Skor didasarkan pada pengamatan pekembar sedi terhadap seluruh jalannya pertarungan.

Uniknya, Presean juga diiringi musik yang disebut gendang (gending) presean. Alat-alat musiknya terdiri dari dua buah gendang, satu buah petuk, satu set rencek, satu buah gong dan satu buah suling. Jenis-jenis gending Presean dibagi menjadi 3 macam, yakni gending rangsang yaitu gending yang dimainkan pada saat Pakembar dengan dibantu pengadol mencari petarung dan lawan tandingnya. Kedua, gending mayuang, yaitu gending yang bertujuan untuk memberi tanda bahwa telah ada dua pepadu yang siap dan sama-sama berani melakukan Presean. Yang ketiga adalah gending beradu yaitu gending yang bertujuan untuk membangkitkan semangat petarung maupun penonton dan dimainkan selama berlangsungnya pertarungan.

Tidak ada dendam dalam pertarungan ini,walau pihak lawan bercucuran darah. Di setiap akhir acara, masing-masing petarung harus berpelukan dan tidak menyimpan dendam. Petarung yang terluka akan segera diobati oleh dukun dengan sejenis obat minyak dan ramuan tertentu. Seni ini bertujuan untuk menguji keberanian, ketangkasan dan ketangguhan seorang pepadu dalam pertandingan. Uniknya, para pepadu tidak dipersiapkan sebelumnya karena para petarung diambil dari penonton sendiri ketika acara dimulai. Ada dua cara untuk mendapatkan pepadu atau petarung yakni dengan wasit menunjuk langsung penonton yang hadir atau seorang pepadu yang telah memasuki arena menantang penonton untuk melawannya. Tak heran jika, saat Presean digelar, penonton akan meluber di pinggir arena. Permainan ini selain seru juga menjadi aset budaya Lombok.

Sumber foto: Opik Santana

Kalung Sang Putri Untuk Pak Gubernur NTB

ADA yang menarik dari acara Gran Fondo New York (GFNY) hari Minggu (2/10) lalu. Saat itu, Gubernur Nusa Tenggara Barat, TGH M Zainul Majdi, yang turut menjadi peserta dan begitu sampai garis finish, langsung mendapatkan kalungan medali dari sang putri sendiri yang berusia tiga tahun.

GFNY sendiri berlangsung lancar, dengan mengambil tempat di kawasan wisata Senggigi, tepatnya di depan Senggigi Square, dimana ratusan peserta memacu sepedanya pada pukul 06.00 Wita.

“Saya harap semua peserta menikmati keindahan yang membentang sepanjang jalur perlombaan GFNY Indonesia, serta diharapkan semua peserta agar menjaga keselamatan selama dalam perjalanan,” ujar Gubernur dalam sambutannya sebelum start.

Sekitar 619 peserta lomba yang mengikuti lomba sepeda GFNY ini. Diantaranya 40 persen peserta merupakan turis mancanegara dan 60 persen lainnya merupakan wisatawan Nusantara dari 32 negara di Dunia.

Dalam perlombaan, ada dua kategori jarak tempuh yakni 180 km dan 80 km. Khusus rute 180 km, peserta akan melewati empat Kabupaten Kota yakni Lobar, Mataram, Loteng, Lombok Utara dan balik lagi ke posisi start. di rute 80 km, peserta hanya melewati jalur Lobar, Mataram, dan Lombok Utara saja.

Selain Gubernur NTB, Zainul Majdi, juga ada beberapa peserta lomba dari kalangan pejabat, misalnya Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, Ketua Umum PB ISSI, Raja Sapta Oktohari, hingga Bupati KLU, Najmul Akhyar.

Hingga pukul 11.00 Wita, sudah banyak peserta di dua kategori itu yang berhasil melintasi garis finish. Gemuruh gendang beleq menyambut peserta yang mencapai garis Finis. Setiap peserta yang finis pun langsung di kalungkan medali oleh panitia. Pemandangan berbeda terlihat di penghujung garis finis. (Amr/SN)

Selasa, 04 Oktober 2016

Pertuni Beri Pelatihan Komputer Bagi Tuna Netra

Seratusan penyandang tunanetra se-Nusra mendapatkan pelatihan komputer selama enam hari. Pelatihan ini diselenggarakan hingga tanggal 8 Oktober di Narmada Convention Hall.

Pelatihan ini diharapkan bisa meningkatkan skill mengakses informasi dari internet. Hal ini ditujukan untuk menunjang kemandirian hidup, termasuk dalam kewirausahaan.

Pelatihan diselenggarakan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) dan Yayasan Samara Lombok. Yayasan ini aktif memberikan bantuan pada kegiatan pengembangan masyarakat di Lombok.

Penanggungjawab pelatihan yang juga Ketua III DPP Pertuni Tri Bagyo mengatakan dalam sepuluh tahun terakhir, Pertuni telah menyelenggarakan serangkaian pelatihan computer di beberapa kota,hal ini dimaksudkan untuk menjangkau lebih banyak lagi tuna netra di seluruh Indonesia. Nurutnya pada pelatihan kali ini, peserta diberikan materi kewirausahaan melalui media online dan diharapkan setelah pelatihan ini dapat meningkatkan kemampuan dalam menggunakan computer. Komputer yang digunakan oleh tunanetra sama dengan computer pada umumnya. Perbedaannya, komputer tersebut ditambahkan perangkat lunak pembaca layar yang dapat mengkonversi tulisan pada layar monitor menjadi suara. Sehingga tunanetra dapat mengaksesnya melalui pendengaran.

“Dengan dibimbing oleh para instruktur yang juga merupakan tunanetra, materi pelatihan akan berjalan dengan 25% teori dan 75% praktik. Materi yang disampaikan terdiri dari pengenalan hardware, pengetikan dengan Microsoft Word, pencetakan (printing), hingga akses internet,” jelasnya.

Melalui pelatihan komputer ini, ia berharap, semakin banyak tunanetra yang memiliki keterampilan mengoperasikan komputer secara efektif. Selanjutnya, tunanetra dapat memiliki peluang lebih luas untuk berinteraksi dalam masyarakat, termasuk dalam memperoleh pekerjaan.

Dimas, instruktur pelatihan computer yang juga tuna netra mengatakan, perlu waktu bertahap untuk belajar computer. Berdasarkan pengalamannya, perlu waktu sebulan untuk mengenal huruf keyboard. Sementara untuk menulis, ia peru waktu tiga bulan setelah mengenal huruf. “Huruf yang diketik kemudian dikonversi menjadi suara. Sehingga bisa dipahami,” pungkasnya.(Amr/Sn)

Konser Iwan Fals di Praya Bikin Kecewa

Penyanyi legendaries Iwan Fals beberapa waktu lalu hadir di Kota Praya Kabupaten Lombok Tengah, meramaikan Peringatan Hari Jadi Kabupaten Lombok Tengah ke-71 dan Hari Tani Nasional yang dikemas dalam Festival Tani Nusantara ke-56. 

Selain dihibur artis dan band ibukota, rangkaian kegiatan Festival Tani Nusantara menyugukan berbagai macam kegiatan, yakni 23 September, lomba mewarnai dan menggambar untuk siswa TK dan SD di Bencingah Adiguna, lomba tangkap bebek dan tangkap belut yang dilangsungkan di alun-alun Tastura Praya untuk warga dan petani.

Sabtu 24 September, pagi harinya digelar Leadership Forum yang dihadiri oleh Ketua BPK RI Harry Azhar Azis, Ketua Dekom OJK Muliaman Hadad, Menteri Desa, PDT dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo. 

Hari ketiga, Ahad,  25 September warga disuguhkan dengan kemeriahan Karnaval Traktor Hias dan peresean dan konser musik pada malam harinya. 

Penutupan serangkaian kegiatan Festival Tani Nusantara akan laksanakan pada hari Senin, 26 September bersamaan dengan manggungnya Iwan Fals di Lapangan Bundar Praya.

Cuma yang menyesakkan, pada sesi hiburan yang menampilkan Iwan Fals, para fotografer peliput acara dibuat kecewa oleh pihak managemen Iwan Fals. Pasalnya, mereka tidak diijinkan untuk mengambil gambar dan video Iwan Fals. 

Pihak managemen artis mengambil kamera dan menghapus semua file di dalam memori kamera. Padahal dalam memori tersebut tersimpan pula arsip-arsip penting yang tidak berkaitan dengan Iwan Fals. 

‘’Lah, apa arti id card yang di keluarkan pemda loteng. Lagunya merakyat tapi kok eksklusif banget. Semoga tidak lagi ke Lombok deh,’’ ujar salah seorang fotografer. (Amr)