Sabtu, 15 Oktober 2016

PPP Menuju Tiga Besar

Muscab PPP

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah PPP NTB Dra. Hj. Wartiah, MPd, menilai bahwa Partai Persatuan Pembangunan (PPP) harus kerja keras untuk meningkatkan perolah suara dalam Pemilu 2019.

Hal itu disampaikan Hj. Wartiah terkait keinginan Ketua Umum PPP Muhammad Rommahurmuziy untuk menjadi partai tiga besar pada pemilu 2019.

"Untuk mencapai target tiga besar perolehan kursi tidaklah mudah.,tentu membutuhkan keras dan ikhtiar semua kader partai PPP" kata Hj. Wartiah di sela-sela Muscab DPD Partai Persatuan Pembangunan Kabupaten Lombok Barat, Sabtu (15/10/2016).

"Kita sekarang akan memperkuat kaderisasi,mulai pelatihan perdana di tingkat cabang, latihan kader  tingkat madya di Provinsi dan latihan kader tingkat lanjut di pusat," ucapnya.

Hj. Wartiah menilai posisi ketiga akan menjadi pertarungan hampir semua partai. Menurut dia, program-program yang buat oleh Partai Persatuan Pembangunan (PPP) harus yang bersentuhan langsung dengan masyarakat,supaya masyarakat tau “INO LHO PPP YANG SEKARANG’. 

Disinggung juga masalah Pilkada DKI Jakarta, Hj.Wartiah mempertegas sikap partai berlambang Ka’bah itu tetap solid mendukung pasangan Agus dan Selphy, “tidak ada lagi dukungan ke pasangan lain,hanya satu Agus dan Selphy. Jadi tidak ada dualisme dukungan, karena kepengurusan PPP hanyak satua”,ucapnya dengan lantang.

Apapun Alasannya, Penjualan Tanduk Badak Dianggap Ilegal


Seekor badak putih betina (kiri) merumput bersama badak jantan yang menjadi pasangannya sejak serangan pemburu liar di Provinsi KwaZulu-Natal, Afrika Selatan. Dengan helikopter, kelompok pemburu melacak betina ini dan plencingnya yang baru berusia empat minggu, menembaknya dengan panah pembius, lalu memotong culanya dengan gergaji mesin. (Brent Stirton)

Aktivis konservasi akhirnya dapat bernapas lega. Larangan penjualan tanduk badak lintas batas yang telah berlaku sejak tahun 1977 masih akan diterapkan. Hal ini kembali dibahas, setelah usulan negara Swaziland untuk melegalkan perdagangan tanduk badak diajukan pada konferensi perdagangan satwa liar di Afrika Selatan. Tetap diterapkannya peraturan ini berartib bahwa usulan telah ditolak.

Convention of the International Trade in Endangered Species (CITES) untuk satwa dan tumbuhan liar diadakan pada Rabu (3/10) di Johannasburg. Konvensi perdagangan satwa global ini terdiri dari 182 negara dan Uni Eropa. Perwakilan tiap negara melakukan konferensi selama dua minggu untuk menetapkan kebijakan perdagangan satwa liar internasional.

Pengajuan usulan ini disampaikan oleh Swaziland, yang memungkinkan negara untuk menjual tanduk badak putih ke melintasi perbatasan. Perwakilan negara kecil di selatan Afrika, Ted Reilly berpendapat bahwa penjualan akan menghasilkan uang yang sangat dibutuhkan untuk konservasi satwa liar.

"Kita semua tahu larangan tersebut tidak berhasil," kata Reilly.

Perwakilan negara diminta memberikan suara terhadap usulan tersebut. Sebanyak 26-100 total suara, hanya 17 orang yang abstain. Komite langsung menolak usulan tersebut.

Badak putih merupakan yang terbesar dari lima spesies badak lainnya. Saat ini hanya sekitar 20.400 badak putih tersisa, dua pertiga dari total populasi badak. Mereka ditemukan di hampir selusin negara-negara Afrika, di mana sejumlah 70 persen badak berada di Afrika Selatan.

Perburuan telah membuat hewan seberat 5.000 pon ini punah menjelang akhir abad ke-19, tetapi mereka berhasil pulih berkat upaya konservasi menakjubkan.

Sekarang hewan ini mulai terancam lagi. Semua orang mencari cara untuk menyelamatkan mereka. Para orang kaya baru di Vietnam dan China telah meningkatkan permintaan tanduk badak. Tahun lalu seorang pemburu menembaki dan membunuh lebih dari seribu badak tanpa ampun.

(K.N Rosandrani. Sumber : Jani Actman / nationalgeographic.co.id)

Satwa-satwa Ini Alami Kemunduran Evolusi

Penguin membutuhkan kecepatan untuk keluar dari air. Pertama, mereka setidaknya harus menembus lapisan es setebal beberapa inci untuk keluar dari air, kedua untuk menghindari anjing laut macan tutul, predator yang biasanya mengintai di tepian es. (Paul Nicklen)

Penemuan ini menantang ilmuwan untuk berpikir tentang asal-usul mata hagfish. Kehidupan hagfish tidak banyak berubah dari hagfish purba. Para ilmuwan berpikir bahwa mata hagfish modern yang buta mewakili semacam langkah di tempat minim cahaya pada banyak invertebrata, dan mata kamera seperti vertebrata, termasuk manusia.

Sarah Gabbott dari Unversitas Leicester, Inggris meneliti fosil ikan berbatu menggunakan mikroskop electron. Ia menemukan sisa-sisa struktur yang mengandung pigmen dalam mata ikan. Struktur ini memungkinkan hewan dapat dibedakan dalam bentuk dan gambar, Gabbott dan rekan-rekannya melaporkan hasil penelitian dalam Prosiding Royal Society B edisi bulan Agustus 2016.

"Saya sangat tertarik melihat mata itu yang terdiri atas ratusan bola kecil atau struktur berbentuk elips ... mirip bakso dan sosis ukuran mikro," kata Gabbott.

Hagfish modern kekurangan struktur satu ini, mereka hanya memiliki semacam bentuk aneh di letak seharusnya mata berada. Jaringan retina yang terawat baik pada hagfish purba menunjukkan suatu kemunduran pada pengelihatan hagfish. Fenomena ini biasa dikenal sebagai evolusi regresif.

Kita sering berpikir bahwa evolusi merupakan proses akumulasi, namun tidak pada proses kemunduran, yang tak dianggap sebagai bagian evolusi. Kemunduran terjadi ketika kehilangan kemampuan menjadi lebih besar dari manfaat. Pada kasus ini, kehilangan mata, tampaknya, kehilangan dan kemunduran yang cukup berharga.

Beberapa spesies hewan yang tinggal di gua termasuk ikan, kepiting, dan salamander, telah berevolusi menjadi buta dengan struktur mata yang memburuk. Tahun lalu, sebuah studi pada cavefish (ikan gua), menemukan bahwa penggunaan indera pengelihatan dan pemrosesan visual di otak ikan dapat mencapai lima hingga 17 persen dari total konsumsi energi hewan.

Penguin, Burung yang Tak Bisa Terbang

Dahulu, nenek moyang penguin mampu untuk terbang. Mereka kehilangan kemampuan tersebut setelah punahnya dinosaurus besar. Penguin tertua, dengan fosil sekitar 60 juta tahun lalu, sudah menjadi perenang yang tak bisa terbang, walaupun memiliki sayap yang gemuk.

Penguin modern mewarisi ciri dari kerabat mereka yang dapat terbang, seperti tulang sayap, tulang dada yang dipenuhi otot dan bulu pada sayap. Kehilangan kemampuan terbang membuat penguin lebih cocok dengan lingkungan mereka, yang berarti burung bisa berkembang lebih besar.

"Bentuk badan yang lebih besar membuat penguin lebih efisien dalam menghasilkan panas, mampu menyelam lebih dalam dan lebih lama, juga mereka bisa menargetkan mangsa yang lebih besar," jelas Daniel Ksepka, seorang ahli paleontologi sekaligus ahli biologi evolusi vertebrata dari Museum Bruce, Connecticut.

Ular yang Kehilangan Kaki

Banyak bukti menunjukkan bahwa dahulu, ular memiliki bagian tubuh. Hingga era modern, para peneliti terus berdebat apakah ular telah berevolusi dari nenek moyang berkaki panjang yang hidup di darat atau di laut. Baru-baru ini, sebuah artikel tahun 2015 dalam jurnal Science Advances menjawab perdebatan ini. Peneliti menggunakan CT scan secara rinci dalam membandingkan model 3-D virtual dari telinga bagian dalam fosil ular yang hidup di air atau di darat, kadal dan kerabatnya.

Bukti menunjukkan bahwa ular memliki nenek moyang yang dapat menggali, dan kaki mereka mengalami kemunduran evolusi, agar mereka bisa lebih baik menggeliat ke dalam tanah.

Organ Pembuangan Kutu Daun

Sebagian besar serangga memiliki organ ekskresi yang disebut Tubulus Malphigi yang membantu mengatur retensi air, ekskresi nitrogen, detoksifikasi, dan kekebalan. Namun organ ini tak dimiliki kutu daun. Tubulus menghilang dalam sejarah evolusi kutu daun.

Peneliti mengungkapkan penyebabnya, ini karena makanan kutu dari getah tumbuhan. Cairan cenderung seragam dalam komposisi dan terdiri dari molekul sederhana, jadi mungkin kutu daun tidak memerlukan organ-organ khusus.

Burung Tak Lagi Miliki Gigi

Burung berevolusi dari dinosaurus, dan spesies kuno seperti Archaeopteryx, kerabat paling dekat antara dinosaurus dan burung, karena kesamaan gigi dan cakar. Untungnya, predator burung paling rakus bahkan saat ini tak lagi memiliki gigi.

Para ilmuwan tidak sepenuhnya yakin mengapa burung kehilangan gigi mereka. Salah satu teori mengatakan bahwa gigi tumbuh lebih kecil dan akhirnya hilang, ini untuk mengurangi berat burung selama terbang. Studi tahun 2014 dalam jurnal Sciences mendukung teori ini. Hasil penelitian mengungkaplan kehilangan gigi dan pembentukan paruh awal pada burung terjadi pada waktu yang sama.

(K.N Rosandrani. Sumber : Jenny Morber / nationalgeographic.co.id)

Kesempatan Kedua untuk Axolotl, Si Salamender Menggemaskan

Salamander air yang berbentuk aneh dan menggemaskan yang disebut axolotl sudah menarik perhatian bagi para kolektor dan ilmuwan selama berabad-abad.Namun saat ini keberadaan dari hewan menggemaskan tersebut telah berkurang di habitat aslinya yang berada disekitar Mexico City.

Keberadaan salamander unik ini semakin terbatas yang saat ini hanya berada di beberapa kanal di sekitar Mexico City, disebabkan oleh pembangunan dan polusi, para ilmuwan juga telah memperingatkan bahwa hewan ini akan punah sepenuhnya pada 2020, menurut sebuah artikel dalam Edisi National Geographic Magazine-Latin America.

Dihormati oleh suku Aztec, axolotl (Ack-suh-LAH-tuhl) adalah salamander yang tidak seperti salamander pada umumnya, makhluk ini memiliki kemampuan luar biasa untuk mengembalikan bagian tubuh yang hilang.

Salamander ini membangun sarang di danau yang berada di cekungan Tenochtitlan, di mana Mexico City saat ini berdiri. Namun selama berabad-abad, banyak danau yang telah dialihkan dan diaspal. Polusi yang berjalan dari tanah sudah membunuh banyak kehidupan air, seperti spesies invasif seperti nila dan ikan merah, axolotl dan makhluk asli lainnya.

Axolotl kerap membangun sarang ...Axolotl kerap membangun sarang di danau-danau Meksiko. Kini, seolah mendapat kesempatan hidup kedua, petani dan ilmuwan bahu-membahu untuk melestarikannya. (Thinkstock)


Pada 1992, Pemerintahan Meksiko mengambil tindakan, dengan mendirikan Ejidos de Xochimilco dan San Gregorio Atlapulco untuk melindungi area alami dan mencoba menjaga apa saja yang tersisa dari habitat axolotl. Wilayah ini juga sudah dianggap sebagai situs warisan dunia UNESCO dan Ramsar Wetland of International Importance.

Namun, selama beberapa tahun terakhir, salamander ini masih terun menunjukkan penurunan yang diakibatkan oleh polusi yang sedang terjadi. Demi menjaga jumlah keberadaan salamender ini, para ilmuwan telah melakukan perkembang biakan salamender di dalam penangkaran. Axolotl bereproduksi relatif cepat, namun tantangan sebenarnya akan dimulai ketika binatang yang telah dikembang biakkan kembali ke habitat mereka yang terganggu.

Dihormati oleh suku Aztec, axolotl (Ack-suh-LAH-tuhl) adalah salamander yang tidak seperti salamander pada umumnya, makhluk ini memiliki kemampuan luar biasa untuk mengembalikan bagian tubuh yang hilang.
Penurunan jumlah keberadaan salamender ini menjadi perhatian besar bagi beberapa penduduk lokal yang masih melihat hewan ini sebagai bagian penting dari warisan budaya mereka.

“Legenda mengatakan pada kita seperti ini, ketika axolotes punah, kita juga akan punah bersamanya,” kata seorang petani lokal Pedro Méndez mengatakan pada National Geographic Magazine-Latin America.

Axolotl begitu dicintai di Meksiko bahkan hewan itu digunakan sebagai metafora dari identitas nasional oleh ahli Antropolog Roger Bartra dalam bukunya La Jaula de la Melancolia (The Cage of Melancholy).

Untuk memperluas habitat hewan, para ilmuwan juga bekerja sama dengan masyarakat setempat untuk merevitalisasi tradisi pertanian kuno di lahan basa pada struktur yang berawal dari pulau terapung.Teknik pertanian organik menciptakan habitat yang baik bagi salamender, dan juga membantu penyaringan air untuk kota. Struktur tersebut yang disebut juga dengan Chinampa, dibangun menggunakan tumbuhan air dan kayu yang terhubung dengan lumput dari dasar danau.

Tetapi untuk kembali ke sistem seperti ini tidaklah hal yang mudah, demikian laporan National Geographic Magazine edisi Amerika Latin. Beberapa anak muda di kawasan tersebut tampak tertarik pada pertanian dengan cara-cara lama, sedangkan beberapa petani lainnya telah menggunakan bahan kimia dalam bertani, membangun rumah kaca, atau menutup kanal.

“Untuk menjaga axolotl berarti menyelamatkan lingkungannya pula, hal tersebut dapat membantu memulihkan air, menyelamatkan spesies axolotl, serta menjaga chinampa, alam dan pohon-pohon,” kata Méndez. “Tetapi, jika kita tidak menyelamatkan diri, axolotl pun tidak akan terselamatkan.”  

(Nisrina Darnila. Sumber: Brian Clark Howard/nationalgeographic.com)

Hal Sederhana yang Dapat Dilakukan untuk Menolong Penurunan Populasi Lebah

Sungguh mengejutkan ketika pemberitaan terhadap lebah ‘bumble bee’ dimasukkan ke dalam daftar spesies hewan yang terancam punah oleh US Fish and Wildlife Services pada bulan lalu akibat penurunan populasi yang sangat cepat selama bertahun-tahun.

Tedapat setidaknya 250 spesies lebah yang tinggal di zona beriklim utara,tengah, dan Amerika Selatan serta Eropa dan Asia. Keberadaan lebah bumble bee sedikit lebih jarang daripada spesies lainnya. Pada 2014, para ilmuwan kembali bersemangat karena menemukan untuk pertama kalinya Bombus affinis dalam lima tahun terakhir di Virginia. Keberadaan mereka berlimpah hingga akhir tahun 1990 karena mengalami penurunan populasi sebesar sembilan puluh lima persen dalam beberapa tahun terakhir.

Dari 250 spesies lebah di dunia, penurunan jumlah dari lebah jenis rusty-patched sangat signifikan, kata Sarina Jepsen, Director of Endangered Species and Aquatic Program dari Xerces Society melalui e-mail.The Xerces Society mengajukan sebuah petisi pada 2013 agar memasukkan lebah rusty-patched sebagai spesies yang terancam punah. Penelitian yang dilakukan oleh Xerces Society dan berkolaborasi dengan IUCN Bumblebee Specialist Group menemukan bahwa sekitar seperempat dari hampir 50 spesies lebah di Amerika Utara juga menghadapi risiko kepunahan.

Jika lebah benar-benar akan menghilang sepenuhnya dari bumi ini, kita akan kehilangan salah satu penyerbuk terbaik di dunia. “Bahkan jika Anda dapat membuat penyerbuk tanaman sendiri, Anda akan mendapatkan tanaman yang lebih besar dan lebih banyak berbuah jika lebah-lebah yang melakukan penyerbukkannya,” kata Georgia Parham, seorang juru bicara dari US Fish and Wildlife Service. “Para lebah mempunya teknik ‘penyerbukan buzz ’ dengan cara meraih bagian bawah bunga denga rahang mereka dan menggetarkan sayap mereka untuk mengguncangkan serbuk sari."

Jika lebah benar-benar akan menghilang sepenuhnya dari bumi ini, kita akan kehilangan salah satu penyerbuk terbaik di dunia.
“Alasan utama dari penurunan jumlah lebah ialah pembangunan urban,” kata Clint Perry, seorang cognitive neuroethologist dari Queen Mary University yang memperlajari kognisi lebah. Para lebah menyerbuki blueberry, cranberry, dan semanggi. Lebah hampir satu-satunya serangga yang dapat menyerbuki tomat, menurut USFWS. Dengan lebah, Amerika Serikat dapat menghemat $3 miliyar pertahun untuk membiayai layanan penyerbukkan.

Kabar baiknya, Kita tidak perlu berhenti dari pekerjaan kita dan kemudian menjadi peternak lebah, atau bahkan memiliki gelar melittology untuk dapat menyelamatkan lebah. Berikut beberapa langkah sederhana yang dianjurkan oleh para ahli untuk membantu menjaga populasi lebah di rumah:

Mulai menanam bunga. Meskipun hanya dalam bentuk kotak kecil didepan jendela rumah anda.Pembangunan perkotaan adalah salah satu alasan mengapa mereka mengalami kekacau seperti ini. Mulailah membangun sebuah taman kecil di depan rumah anda dan para lebah akan sangat berterimakasih atas hal tersebut. Lebah bukan hewan pemilih atau dapat disebut dengan ‘habitat generalists', kata Jepsen. Bunga-bunga seperti bunga Lupin, semanggi dan aster dapat menarik perhatian lebah.
Mengurangi penggunaan pestisida kimia dan herbisida atau sama sekali tidak Menggunakan pestisida yang disemprotkan ke tanaman dapat menyebar melalui angin dan menimbulkan bahaya yang lebih besar, terutama bagi lebah.
Bersikap baik ketika melihat Lebah. Jangan memukuli lebah ketika anda melihat mereka karena anda takut padanya. Lebah hanya akan menyengat jika anda mengganggu mereka atau ketika sedang berada di sarang mereka.

(Nisrina Darnila. Sumber: Samantha Cole/popsci.com;www.fws.gov/)

Bayi-Bayi Satwa Diselamatkan Usai Amukan Hurricane Matthew

Awal pekan ini, seekor elang botak diselamatkan dari terali mobil yang berada di dekat Jacksonville, Florida setelah terhempas oleh serangan angin buas Hurricane Matthew. Pada Senin, sebauh badan penyelamatan hewan di Orlando mengumumkan bahwa mereka telah mengambil lebih dari seratus hewan dan banyak diantaranya masih berupa bayi terluka akibat badai.

Back to Nature Wildlife Refuge telah menemukan banyaknya  satwa liar yang terluka akibat badai Matthew beberapa hari ini. Tempat pengungsi tersebut mengatakan banyak bayi tupai yang sedang dirawat, kemudian musang, kelinci dan burung.

Ketika stasiun TV setempat mengunjungi tempat penampungan tersebut, mereka menemukan bayi-bayi hewan disimpan di dalam kotak, ditutupi dengan selimut, menanti untuk mendapatkan pengobatan, atau beristirahat.Dan beberapa bayi hewan yang membutuhkan pemberian makan teratur pada setiap jam nya.

“Anda Bisa Membantu!” tulis tempat penampungan di halaman Facebook-nya. “Saat ini kami membutuhkan kaos, selimut bayi, atau handuk, roti gandum dan berbagai macam kacang tanpa garam, makanan kaleng untuk kucing dan anjing.”
Seekor bayi tupai tejatuh dari pohon, masyarakat lokal terus memberi kehangatan pada bayi tersebut selama perjalanan menuju tempat penampungan. Tempat penampungan, baru-baru ini membangun sebuah gedung berada dibawah ketegangan atas pekerjaan dan biaya yang diperlukan untuk merawat hewan-hewan ini, kata pemimpin tempat perlindungan pada Stasiun TV lokal.

“Anda Bisa Membantu!” tulis tempat penampungan di halaman Facebook-nya. “Saat ini kami membutuhkan kaos, selimut bayi, atau handuk, roti gandum dan berbagai macam kacang tanpa garam, makanan kaleng untuk kucing dan anjing.”

Florida sebagain besar dapat menghindari kemungkinan teburuk dari Badai Matthew yang dapat menyebabkan kematian dan kerugian harta benda. Korban manusia yang tewas akibat badai ini telah melebih angka seribu kematian dengan sebagian besar korban yang tercatat berasal dari Karibia , terutama Haiti. Setidaknya 32 orang  dilaporkan tewas di Amerika Serikat.

Mengenai penemuan elang botak di jejaring mobil, pada awalnya pengemudi mobil tidak menyadari adanya elang yang terperangkap di jejaring mobil miliknya hingga seorang Samaria memberitahunya dan menunjuk ke arah elang tersebut. Elang jantan yang berusia kira-kira 7 tahun, tidak mengalami cedera serius dan dilaporkan telah sembuh dari kejadian tersebut.

(Nisrina Darnila. Sumber: Brian Clark Howard/Nationalgeographic.com)

Katak Pohon Toughie Mati, Menggiring Spesies Menuju Kepunahan

Toughie, seekor katak Rabbs’ Fringe-limbed tree frog  terakhir di dunia dan simbol dari krisis kepunahan spesiesnya, telah mati di Atlanta Botanical Garden.

Usia dari katak terkenal ini tidak diketahui, namun diperkirakan umur dari katak ini ialah sekitar 12 tahun dan kemungkinan lebih tua, karena ketika katak ini ditemukan, katak ini telah memasuki usia dewasa pada 2005.

Mark Mandica, seorang yang telah bekerja bersama toughie selama tujuh tahun mengatakan, cerita mengenai katak ini tidak sepenuhnya unik. “Banyak perhatian yang telah ia dapatkan di penangkaran, katak ini bahkan memiliki halaman Wikipedia sendiri,” kata Mandica, pimpinan yayasan Amphibian Foundation. “Namun, di luar masih banyak spesies lain yang telah menghilang, bahkan terkadang sebelum kita mengetahui bahwa spesies tersebut ada.”

Katak jantan lainnya yang berasal dari spesies serupa berada di Zoo Atlanta pada 2012, namun setelah gagal berjuang melawan penyakitnya, Toughie menjadi satu-satunya spesies yang tersisa.
Nyatanya, spesies dari Toughie sendiri (Ecnomiohyla rabborum) tidak diketahui sampai 2005, dan beberapa tahun setelah Toughie ditemukan yakni selama 2005 dalam misi penyelamatan katak yang dilakukan oleh Atlanta Botanical Garder dan Zoo Atlanta. Dia adalah salah satu spesies yang paling dicari untuk dilindungi oleh para ilmuwan karena serangan jamur chytrid yang mematikan di atas pusat Panama. Jamur Chytrid, adalah sebuah penyakit kulit yang dapat menyebabkan 100 persen kematian pada katak.  

Toughie merupakan salah satu katak yang beruntung, karena menurut penelitian lapangan menunjukkan bahwa sebanyak 85 persen amfibi yang berada di lokasi yang sama dengan Toughie dinyatakan bersih dari penyakit tersebut.

Pada tahun 2008, peneliti mendengar bahwa terdapat spesies sejenis yang berada di lokasi yang sama dengan Toughie ditemukan, namun tidak ada yang dapat membuktikannya. Katak jantan lainnya yang berasal dari spesies serupa berada di Zoo Atlanta pada 2012, namun setelah gagal berjuang melawan penyakitnya, Toughie menjadi satu-satunya spesies yang tersisa.

Setidaknya terdapat satu herpetologis menaruh sebuah harapan bahwa Toughie masih mempunyai beberapa kerabat yang tersisa di daerah Panama dan kemungkinan spesies tersisa sedang bersembunyi di suatu tempat di dalam hutan. “Perilaku dari genus ini dapat membuat mereka sulit untuk ditemukan karena bertempat tinggal di atas pohon-pohon yang tinggi,” kata Jonathan Kolby, direktur dari Honduras Amphibian Rescue and Conservation Center. “Spesies ini berkembang biak di dalam rongga pohon, saya berharap perilaku ini dapat memberikan perlindungan dari paparan jamur chytrid, meskipun jumlah spesies ini telah dilaporkan telah menipis setelah jamur chytrid menyerang daerah ini.”

Saat ini, katak tersebut telah mati , mati bersama seluruh spesiesnya. Sebagian besar jumlah hewan dan tumbuhan terus menghilang, kerugian semacam ini terus menjadi bukti bahwa kesehatan ekosistem dibutuhkan oleh semua makhluk hidup, termasuk kita sendiri. 

(Nisrina Darnila. Sumber: Brian Craft/nationalgeographic.com; Jason Daley/SMITHSONIAN.COM)