Jelang hari penutupan Bulan Budaya Lombok Sumbawa (BBLS) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata provinsi Nusa Tenggara Barat menggelar Pentas Tari Kontemporer di Sanggar Seni Taman Budaya Mataram.
Sayangnya, tarian kontemporer yang dipertontonkan tersebut bukan mengenai adat istiadat dan budaya Lombok Sumbawa, melainkan tarian asal luar daerah seperti tari Dingklik Sinden, tari Bukan Bercanda, dan tari Tertambat.
Spontan tarian kontemporer yang ditampilkan itu menuai kritik dari beberapa pengunjung, termasuk para pelaku seni. Sebab, pada gelaran tersebut tidak menampilkan seni tari asal dua pulau yaitu Lombok ataupun pulau Sumbawa.
“Seharusnya ditampilkan juga seni tari Lombok atau Sumbawa, bukan seni luar meskipun ini tarian kontemporer,” ujar Andi, salah seorang pengunjung kepada lombokita.com, Kamis (15/9/2016).
Terkait hal itu, Kepala Dinas Kebudayaan Propinsi NTB, Lalu Mohamad Faozal menerangkan bahwa tarian kontemporer yang dibawa oleh institut seni tari Jogjakarta ini dianggap sebagai bahan diskusi bukan fokus pada jenis tarian.
“Konsep dan pergelaran tarian kontemporer ini sengaja didatangkan dari luar untuk memberikan pencerahan. Yang penting dari acara itu adalah diskusi yang membahas tentang tarian itu, bukan jenisnya,” tandas Faozal.
Selasa, 04 Oktober 2016
Penutupan Bulan Budaya Lombok Sumbawa Mempesona
Malam penutupan even tahunan provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yaitu Bulan Budaya Lombok Sumbawa (BBLS) yang berlangsung di pantai Senggigi, Lombok dihebohkan dengan penampilan tarian Sumbawa dan Jogjakarta.
Tarian asal Sumbawa Besar berjudul Lonto Engal dan tarian Selemor Ate berhasil mencuri perhatian tamu undangan dan turis asing yang hadir. Sementara itu tarian Dingklak Sinden asal Jogjakarta juga sukses menghebohkan panggung penutupan even tahunan ini.
Pantauan lombokita.com dari tempat acara, saat ditampilkan tarian sumbawa tersebut tampak puluhan bule-bule duduk manis di pasir sambil menikmati alunan musik serta tarian yang dibawakan oleh pemuda pemudi asal Sumbawa ini. Mereka tampak kagum dengan aksi panggung para penari ini.
Seperti yang diungkapkan Edward (27) Pria asala Prancis ini mengaku kagum dengan tarian tersebut. Menurutnya, tarian tersebut sangat eksotis karena dipadu dengan ketukan gendang tradisional.
“Sungguh menakjubkan, tarian mereka benar benar bagus. Pukulan gendangnya juga sangat bagus ,” kata dia.
Sedangkan tarian Dingklak Sinden yang dibawa oleh penari Insitut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta yang dibawa oleh ibu-ibu ini juga tak kalah menarik. Mereka berhasil mengocok perut para tamu undangan yang hadir pada acra tersebut karena aksi unik yang mereka bawa.
Kehobahan aksi panggung para penari asal Jogjakarta ini terletak saat beberapa orang ibu-ibu dengan pakaian adat jawa beraksi dengan tarian kayang dan jungkir balik bak atlet silat.
Melihat tarian tersebut para penonton dan tamu undangan khususnya wagub NTB Muhammad Amin spontan bertepuk tangan dan merasa tidak percaya dengan aksi unik mereka. Sebab, di usia mereka yang rata rata menginjak pertengahan abad namun sangat energic.
“Bayangkan saja di usia 50 tahun masih bisa jungkir balik itu perlu diberikan apresiasi. Jarang-jarang ada orang seperti mereka semangat mereka mengalahkan anak muda,” ucap Amin sembari tertawa disambut tepukan tangan penonton.
Sekadar informasi, Bulan Budaya Lombok Sumbawa (BBLS) merupakan Event tahunan pemerintah provinsi NTB. Event tersebut digelar selama satu bulan sejak tanggal 16 Agustus dengan menampilkan berbagai kegiatan seperti pawai adat, perlombaan dan beberapa kegiatan budaya lainnya.
Tarian asal Sumbawa Besar berjudul Lonto Engal dan tarian Selemor Ate berhasil mencuri perhatian tamu undangan dan turis asing yang hadir. Sementara itu tarian Dingklak Sinden asal Jogjakarta juga sukses menghebohkan panggung penutupan even tahunan ini.
Pantauan lombokita.com dari tempat acara, saat ditampilkan tarian sumbawa tersebut tampak puluhan bule-bule duduk manis di pasir sambil menikmati alunan musik serta tarian yang dibawakan oleh pemuda pemudi asal Sumbawa ini. Mereka tampak kagum dengan aksi panggung para penari ini.
Seperti yang diungkapkan Edward (27) Pria asala Prancis ini mengaku kagum dengan tarian tersebut. Menurutnya, tarian tersebut sangat eksotis karena dipadu dengan ketukan gendang tradisional.
“Sungguh menakjubkan, tarian mereka benar benar bagus. Pukulan gendangnya juga sangat bagus ,” kata dia.
Sedangkan tarian Dingklak Sinden yang dibawa oleh penari Insitut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta yang dibawa oleh ibu-ibu ini juga tak kalah menarik. Mereka berhasil mengocok perut para tamu undangan yang hadir pada acra tersebut karena aksi unik yang mereka bawa.
Kehobahan aksi panggung para penari asal Jogjakarta ini terletak saat beberapa orang ibu-ibu dengan pakaian adat jawa beraksi dengan tarian kayang dan jungkir balik bak atlet silat.
Melihat tarian tersebut para penonton dan tamu undangan khususnya wagub NTB Muhammad Amin spontan bertepuk tangan dan merasa tidak percaya dengan aksi unik mereka. Sebab, di usia mereka yang rata rata menginjak pertengahan abad namun sangat energic.
“Bayangkan saja di usia 50 tahun masih bisa jungkir balik itu perlu diberikan apresiasi. Jarang-jarang ada orang seperti mereka semangat mereka mengalahkan anak muda,” ucap Amin sembari tertawa disambut tepukan tangan penonton.
Sekadar informasi, Bulan Budaya Lombok Sumbawa (BBLS) merupakan Event tahunan pemerintah provinsi NTB. Event tersebut digelar selama satu bulan sejak tanggal 16 Agustus dengan menampilkan berbagai kegiatan seperti pawai adat, perlombaan dan beberapa kegiatan budaya lainnya.
Pertuni Beri Pelatihan Komputer Bagi Tuna Netra
Seratusan penyandang tunanetra se-Nusra mendapatkan pelatihan komputer selama enam hari. Pelatihan ini diselenggarakan hingga tanggal 8 Oktober di Narmada Convention Hall.
Pelatihan ini diharapkan bisa meningkatkan skill mengakses informasi dari internet. Hal ini ditujukan untuk menunjang kemandirian hidup, termasuk dalam kewirausahaan.
Pelatihan diselenggarakan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) dan Yayasan Samara Lombok. Yayasan ini aktif memberikan bantuan pada kegiatan pengembangan masyarakat di Lombok.
Penanggungjawab pelatihan yang juga Ketua III DPP Pertuni Tri Bagyo mengatakan dalam sepuluh tahun terakhir, Pertuni telah menyelenggarakan serangkaian pelatihan computer di beberapa kota,hal ini dimaksudkan untuk menjangkau lebih banyak lagi tuna netra di seluruh Indonesia. Nurutnya pada pelatihan kali ini, peserta diberikan materi kewirausahaan melalui media online dan diharapkan setelah pelatihan ini dapat meningkatkan kemampuan dalam menggunakan computer. Komputer yang digunakan oleh tunanetra sama dengan computer pada umumnya. Perbedaannya, komputer tersebut ditambahkan perangkat lunak pembaca layar yang dapat mengkonversi tulisan pada layar monitor menjadi suara. Sehingga tunanetra dapat mengaksesnya melalui pendengaran.
“Dengan dibimbing oleh para instruktur yang juga merupakan tunanetra, materi pelatihan akan berjalan dengan 25% teori dan 75% praktik. Materi yang disampaikan terdiri dari pengenalan hardware, pengetikan dengan Microsoft Word, pencetakan (printing), hingga akses internet,” jelasnya.
Melalui pelatihan komputer ini, ia berharap, semakin banyak tunanetra yang memiliki keterampilan mengoperasikan komputer secara efektif. Selanjutnya, tunanetra dapat memiliki peluang lebih luas untuk berinteraksi dalam masyarakat, termasuk dalam memperoleh pekerjaan.
Dimas, instruktur pelatihan computer yang juga tuna netra mengatakan, perlu waktu bertahap untuk belajar computer. Berdasarkan pengalamannya, perlu waktu sebulan untuk mengenal huruf keyboard. Sementara untuk menulis, ia peru waktu tiga bulan setelah mengenal huruf. “Huruf yang diketik kemudian dikonversi menjadi suara. Sehingga bisa dipahami,” pungkasnya.(Amr)
Pelatihan ini diharapkan bisa meningkatkan skill mengakses informasi dari internet. Hal ini ditujukan untuk menunjang kemandirian hidup, termasuk dalam kewirausahaan.
Pelatihan diselenggarakan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) dan Yayasan Samara Lombok. Yayasan ini aktif memberikan bantuan pada kegiatan pengembangan masyarakat di Lombok.
Penanggungjawab pelatihan yang juga Ketua III DPP Pertuni Tri Bagyo mengatakan dalam sepuluh tahun terakhir, Pertuni telah menyelenggarakan serangkaian pelatihan computer di beberapa kota,hal ini dimaksudkan untuk menjangkau lebih banyak lagi tuna netra di seluruh Indonesia. Nurutnya pada pelatihan kali ini, peserta diberikan materi kewirausahaan melalui media online dan diharapkan setelah pelatihan ini dapat meningkatkan kemampuan dalam menggunakan computer. Komputer yang digunakan oleh tunanetra sama dengan computer pada umumnya. Perbedaannya, komputer tersebut ditambahkan perangkat lunak pembaca layar yang dapat mengkonversi tulisan pada layar monitor menjadi suara. Sehingga tunanetra dapat mengaksesnya melalui pendengaran.
“Dengan dibimbing oleh para instruktur yang juga merupakan tunanetra, materi pelatihan akan berjalan dengan 25% teori dan 75% praktik. Materi yang disampaikan terdiri dari pengenalan hardware, pengetikan dengan Microsoft Word, pencetakan (printing), hingga akses internet,” jelasnya.
Melalui pelatihan komputer ini, ia berharap, semakin banyak tunanetra yang memiliki keterampilan mengoperasikan komputer secara efektif. Selanjutnya, tunanetra dapat memiliki peluang lebih luas untuk berinteraksi dalam masyarakat, termasuk dalam memperoleh pekerjaan.
Dimas, instruktur pelatihan computer yang juga tuna netra mengatakan, perlu waktu bertahap untuk belajar computer. Berdasarkan pengalamannya, perlu waktu sebulan untuk mengenal huruf keyboard. Sementara untuk menulis, ia peru waktu tiga bulan setelah mengenal huruf. “Huruf yang diketik kemudian dikonversi menjadi suara. Sehingga bisa dipahami,” pungkasnya.(Amr)
Minggu, 02 Oktober 2016
Gunung Barujari di Lombok meletus
Mataram (ANTARA News) - Gunung Barujari di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, dilaporkan meletus pada Minggu, sekitar pukul 10.45 WITA.
Kepala Resort Sembalun, Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Zulfahri, ketika dihubungi dari Mataram, Minggu, mengatakan Gunung Barujari yang disebut sebagai anak Gunung Rinjani oleh masyarakat Pulau Lombok itu saat ini masih mengeluarkan asap dan debu dalam skala kecil.
"Kondisi kepulan asap saat awal letusan tidak terlalu besar, namun kami sudah melakukan upaya evakuasi terhadap para pendaki karena dikhawatirkan letusan makin membesar," katanya.
Dia mengaku belum mengetahui secara pasti berapa jumlah pendaki yang masih berada di Danau Segara Anak yang lokasinya dekat dengan Gunung Barujari yang mengeluarkan asap.
"Ada empat orang anggota tim dari TNGR yang masih berada di atas untuk melakukan evakuasi para pendaki, saya belum tahu pasti berapa jumlah pendaki yang terdaftar, yang jelas semua ada datanya," ujarnya.
Proses evakuasi dilakukan melalui jalur pendakian Torean, Kabupaten Lombok Utara karena lebih aman dari asap dan debu akibat letusan.
Zulfahri menegaskan, pihaknya juga sudah menutup seluruh jalur pendakian resmi, baik melalui Sembalun dan Timbanuh, Kabupaten Lombok Timur, serta Senaru, Kabupaten Lombok Utara.
"Aktivitas pendakian sudah ditutup karena kondisi tidak memungkinkan untuk keselamatan para pendaki dan informasi ini sudah kami sampaikan kepada pemandu wisata dan lewat internet," katanya.
Pihak TNGR juga sudah menghubungi panitia acara "Mulang Pekelem" untuk mengkondisikan kegiatannya karena situasi di sekitar Gunung Rinjani tidak memungkinkan bagi keselamatan.
"Acara keagamaan itu akan berlangsung dua hari lagi, sehingga kami sudah menghubungi panitia acara untuk segera mengkondisikan kegiatannya, demi keselamatan," kata Zulfahri.
Gunung Barujari atau yang disebut Gunung Baru berada di sisi timur kaldera Gunung Rinjani, dengan kawah berukuran 170m x 200 meter, ketinggian 2.296 - 2376 meter dari permukaan laut (mdpl).
Gunung yang berada di areal Danau Segara Anak Gunung Rinjani ini terakhir meletus pada 2 Mei 2009, dengan jumlah korban jiwa 31 orang karena banjir bandang akibat letusan. Sebelumnya juga pernah meletus pada 2004, namun tidak ada korban jiwa.
Gunung Barujari juga pernah tercatat meletus pada tahun 1944 (sekaligus pembentukannya), kemudian tahun 1966, dan tahun 1994.
Sabtu, 01 Oktober 2016
Kekaisaran Maya yang Hilang
Pada abad ke tujuh Masehi para pemimpin Ular menguasai ibu kota di wilayah yang kini ada di selatan Meksiko dan struktur terbesarnya, sebuah piramida setinggi 55 meter. Dari Calakmul mereka mengatur jaringan sekutu yang rumit. Bagaimana para raja Ular menggunakan perang dan diplomasi untuk membentuk persekutuan terkuat dalam sejarah peradaban mereka? Baca kisahnya di majalah National Geographic Indonesia edisi September 2016.
(David Coventry/National Geographic Magazine)
Gelombang Panas
Ribuan singa laut california, seperti yang di atas batu satu ini di dekat Pulau Vancouver Kanada, mati selama 2014 dan 2015. Banyak yang kelaparan karena sulit mendapat makanan di Pasifik timur yang sangat hangat. Hamparan luas air hangat yang dinamai blob merundung Pasifik. Sebagian pihak khawatir ini adalah cerminan laut di masa depan.
(Paul Nicklen/National Geographic Magazine)
Jumat, 30 September 2016
Meretas Jalur Menuju Pucuk Beriun
National Geographic.com. Mengulang ekspedisi dengan tajuk yang sama pada tahun 2015 di Merabu, Kalimantan Timur, Eiger yang merupakan salah satu produsen perlengkapan papan atas untuk kegiatan luar ruang, akan kembali menjelajahi Pulau Kalimantan.
Kali ini Eiger Black Borneo Expedition 2016 akan membelah belantara hutan menuju puncak tertinggi Gunung Beriun, Kalimantan Timur. Ekspedisi kedua di kawasan hutan hujan tropis di Pulau Kalimantan ini akan berlangsung dari tanggal 1 hingga 20 September 2016.
"Ada tiga puncak yang akan kita jelajahi dalam ekspedisi kali ini. Dari ketiga puncak di Gunung Beriun, kita akan mencari titik tertinggi gunung ini," tutur Galih Donokara, salah seorang pegiat alam bebas dalam rapat terakhir sebelum pelepasan tim di Bandung, Senin (29/8/2016).
Menurut Galih, masih banyak hutan di Kalimantan yang jarang dieksplorasi, "Gunung Beriun ini bisa dikatakan belum tersentuh sama sekali oleh para penjelajah".
Upaya yang dilakukan oleh Eiger lewat Eiger Adventure Service Team (EAST) beserta tim yang terlibat dalam Black Borneo Expedition 2016 ini akan menjadi catatan positif bagi pengembangan dan pelestarian kawasan Gunung Beriun.
"Dengan terbukanya jalur menuju puncak Gunung Beriun, diharapkan membuka peluang dan mempermudah langkah untuk penelitian-penelitian lanjutan di kawasan ini," ungkap Djukardi Adriana, pendaki senior yang juga tergabung dalam tim ekspedisi kali ini.
Gunung Beriun sendiri terletak di wilayah administrasi Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Gunung ini masuk ke dalam kawasan karst Sangkulirang Mangkalihat. Kawasan karst seluas 1.867.676 hektare ini merupakan hulu dari lima sungai besar yang ada di Kabupaten Kutai Timur dan Berau.
Penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan The Nature Conservancy mencatat setidaknya ada 120 spesies burung, 200 spesies serangga dan antropoda, 400 spesies flora, dan sekitar 500 spesies ikan. Selain itu, kawasan ini terutama di Gunung Beriun merupakan salah satu habitat penting bagi kelestarian orangutan kalimantan.
Dari tiga jalur yang direncanakan, Tim Black Borneo Expedition 2016 akan menempuh jalur timur. Penjelajahan menuju puncak Gunung Beriun ini dikomandoi oleh Mamay S. Salim. Sedangkan anggota inti ekspedisi adalah Djukardi Adriana, Iwan Irawan, Galih Donikara, Rudi FIrdaus, Oki Lutfi, Anthony P Putro, Heri Herdiana, Sony Takari, Pindy Setiawan, Yunaidi Joepoet, Teguh Andrianto, Arisona Sudiro, Didi Kaspi Kasim, Wildan Indrawan, Nuraini Anira R dan Briyandono Hendro K. Ekspedisi ini juga melibatkan pecinta karst di Kalimantan Timur, mahasiswa pecinta alam, serta para penduduk lokal.
Tim dari National Geographic Indonesia juga mengambil bagian dalam Black Borneo Expedition 2016 di Gunung Beriun. Tentunya, ekspedisi ini sejalan dengan misi dari National Geographic Society yang menginspirasi lewat penjelajahan, mencerahkan lewat beragam kisah, dan mengedukasi, seperti yang dilakukan selama ini.
"Selain membuka jalur, kami juga punya misi besar untuk kawasan karst Sangkulirang Mangkalihat ini," ujar Iwan Irawan, salah satu orang Indonesia yang sudah mendaki ke tujuh puncak tertinggi di Bumi yang menangani ekspedisi ini. "Bersama Dr. Pindi Setiawan dari Institut Teknologi Bandung, kita mendorong kawasan karst ini supaya bisa menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO," tambahnya.
Tim akan mulai bergerak dari Jakarta menuju Balikpapan pada 1 September 2016. Perjalanan darat akan dilanjutkan ke Desa Karangan. Perintisan jalur pendakian akan mulai dilakukan pada 5 September 2016.
(Yunaidi/National Geographic Indonesia)
Langganan:
Postingan (Atom)




